Kamis, 25 Januari 2018

Analisa Permasalahan Terorisme dan Gerakan Separatisme Uighur di China


Nama   : Lies Aisyah Fardini
NIM    : 155120407111069
Matkul : Politik Pemerintahan Cina
Prodi   : Hubungan Internasional

Analisa Permasalahan Terorisme dan Gerakan Separatisme Uighur di China
Bangsa Uighur merupakan bangsa yang terdiri dari suku minoritas Uighur di China, yang mana suku tersebut merupakan keturunan klan Turki yang berada di wilayah Asia Tengah tepatnya di provinsi Xinjiang. Bangsa Uighur menurut sejarah telah merdeka dan ditinggal  di Uigurishtan selama 2000 tahun. Namun pada masa pemerintahan Mao Zedong pada tahun 1949, Cina mengklaim bahwa bangsa dan suku Uighur merupakan bagian dari wilayah pemerintahan China. Wilayah bangsa Uighur berada pada 1500 mil dari ibukota China yaitu Beijing dengan luas hampir 1/6 wilayah China dan provinsi bangsa Uighur yakni Xinjiang merupakan provinsi terbesar di China. Provinsi Xinjiang berbatasan dengan Kazakhstan, Mongolia, Tajikistan, Afghanistan dan juga Pakistan.[1]
            Bangsa Uighur memiliki perbedaan RAS dan bahasa dengan China Han, yang mana suku Uighur memiliki wajah atau rupa yang lebih mirip kepada orang eropa Kaukasus sedangkan masyarakat China Han lebih menyerupai rupa orang asia.[2] Secara kultural suku Uighur ini lebih dekat dengan bangsa Turk di Asia Tengah daripada dengan masyarakat mayoritas China yang lebih dekat dengan kultural bangsa China han. Sedangkan dalam segi bahasa masyarakat Uighur memiliki bahasa yang berbeda dengan masyarakat China Han. Dikarenakan adanya paksaan yang membuat bangsa Uighur menjadi bagian dari wilayah China membuat suku tersebut merasa tertekan dengan adanya sistem pemerintahan cina yang cenderung komunis. Bangsa Uighur dipaksa untuk menaati kebijakan pemerintah China seperti penggunaan bahasa, kebijakan untuk menaati peraturan dari pemerintahan China seperti contohnya yaitu pembatasan dalam hal beragama.[3]
            Setelah menjadi bagian dari warga negara China, bangsa Uighur belum mendapatkan hak yang sama dengan mayoritas warga asli China yaitu China Han. Dimana masih terdapat diskriminasi dari pemerintah kepada suku Uighur. Meski saat ini provinsi Xinjiang menjadi daerah otonom tapi masih banyak permasalahan yang menimpa suku Uighur, terlebih suku tersebut merupakan suku minoritas muslim yang berada di negara China. Daerah otonomi Xinjiang yang dibentuk oleh pemerintahan China memberikan kebebasan kepada suku Uighur untuk dapat menjadi Gubernur di provinsi tersebut, dan pada kenyataannya masih banyak masalah yang dialami suku tersebut.[4] Contoh masalah tersebut yakni saat masyarakat Uighur mengalami ketimpangan ekonomi dan sosial dibandingkan dengan mayoritas China han yang berada di Provinsi Xinjiang. Untuk dapat memperoleh pekerjaan dan juga pendidikan suku minoritas Uighur cenderung sulit untuk mendapatkannya dan membuat suku tersebut merasa diperlakukan tidak adil. Selain itu, dalam kenyataannya suku Uighur tidak bisa bebas dalam melakukan ibadah, dikareanakan pemerintahan China tidak ingin muslim Uighur menjadi suku yang ekstrimis yang nantinya akan melakukan melawan pemerintah dan kemudian menjadi gerakan separatisme. Contoh peraturan pemerintah China yang membatasi suku minoritas Uighur beragama adalah seperti peraturan tidak diperbolehkan untuk berjilbab bagi perempuan, memelihara jenggot, memakai pakaian keagamaan didepan umum dan mengatur batas usia untuk memasuki masjid.[5]
            Diskriminasi maupun ketimpangan ekonomi dan sosial yang dialami oleh suku minoritas muslim Uighur membuat banyak masyarakat tersebut melakukan migrasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan mencari pekerjaan di wilayah bagian China lainnya. Hal yang menyebabkan adanya diskriminasi dan ketimpangan ini antara lain yaitu karena adanya ketakutan pemerintah China atas gerakan separatisme warga Uighur untuk merdeka. Kebijakan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh pemerintah China ialah mengenai perpindahan masyarakat China Han ke provinsi Xinjiang, yang mana perpindahan masyarakat Han ini juga menjadi salah satu penyebab masyarakat muslim Uighur mendapat perlakuan tidak sama karena dalam segi kecakapan berbahasa dan pendidikan lebih tinggi warga China Han daripada muslim Uighur.[6]
            Ketidaksetaraan akan hidup dan adanya perpindahan masyarakat China han ke provinsi Xinjiang membuat adanya ketidak puasan dari masyarakat minoritas Uighur yang berujung pada serangan-serangan kepada warga China Han. Yang mana serangan tersebut diluncurkan guna menolak kebijakan cina yang seenaknya membuat migrasi China Han ke provinsi Xinjiang yang sudah terjadi sekitar 30 tahunan kebijakan itu dibuat. Selain karena kesenjangan ekonomi dan sosial masyarakat Uighur juga melakukan protes keras terhadap pemerintah karena membatasi hak-hak mereka sebagai seorang warga negara China yang menimbulkan pergerakan politik melawan pemerintah China.[7] Protes yang dilakukan oleh masyarakat Uighur yakni dengan dilakukannya perlawanan kepada pemerintah secara sporadis, yang mana serangan tersebut dilakukan dengan menggunakan senjata dengan sasaran polisi dan pejabat China.[8]
            Konflik yang terjadi di provinsi Xinjiang pada permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Uighur yang seakan tertekan dengan pemerintahan dan kebijakan komunis China selain membuat adanya ketidaksetaraan juga membuat adanya konflik baru yaitu adanya gerakan separatisme yang dilakukan oleh bangsa Uighur untuk kembali mendapatkan kemerdekaan dan terlepas dari kebijkan dan pemerintahan China. Gerakan separatisme ini dipeloropori dengan banyaknya masyarakat suku minoritas Uighur yang terlibat dalam kelompok-kelompok militan seperti Al Qaida maupun ISIS. Orang muslim minoritas Uighur mendapatkan pelatihan dari kelompok-kelompok militan untuk berlatih tempur.[9] Ada kurang lebih 5000 masyarakat Uighur dari daerah Xinjiang yang dinyatakan menjadi bagian dari kelompok militan di Suriah yakni kelompok militan ISIS. Jumlah masyarakat yang tergabung dalam kelompok tersebut disampaikan oleh Duta Besar Suriah atas China yakni Imad Moustapha. Duta besar Suriah menyatakan bahwa alasan muslim minoritas Uighur bergabung dengan kelompok ISIS adalah karena faktor ingin mempromosikan alasan mereka kepada dunia bahwa ingin melakukan gerakan separatis terhadap negara China, selain itu faktor yang lainnya yaitu fokus terhadap gerakan jihadis islam di wilayah Suriah. Duta Besar Suriah menghimbau kepada pemerintah China untuk lebih fokus dan peka terhadap masyarakat muslim Uighur, karena bisa jadi gerakan bergabungnya muslim minoritas Uighur ke ISIS terjadi karena pemerintah China tidak bisa adil dengan warga negara Uighur.[10]
            Selain bergabung ke dalam kelompok militan muslim ISIS, minoritas suku Uighur khususnya dikalangan pemuda bergabung dengan kelompok-kelompok terorisme yang berada di wilayah Asia. Seperti pada khususnya gabungnya masyarakat muslim minoritas Uighur China kedalam terorisme yang terjadi di wiliayah Indonesia tepatnya di Poso. Beberapa masyarakat Uighur bergabung dengan kelompok santoso karena memiliki kesamaan ideologi perjuangan dengan kelompok tersebut.[11] Selain di Indonesia kelompok Uighur juga melakukan tindak terorisme di Thailand, yang mana ada beberapa kelompok suku Uighur yang sedang berlibur di China dan kemudian melakukan pengeboman kuil di Bangkok, Thailand pada 17 Agustus 2015 yang menyebabkan kurang lebih dua puluh orang tewas akibat serangan tersebut.[12] Beberapa kasus yang membuat masyarakat minoritas muslim Uighur melakukan migrasi dan juga menjadi teroris untuk dapat melakukan gerakan separatisme salah satunya adalah karena tekanan yang diterima oleh muslim tersebut di negaranya sendiri yakni negara China.  Selain menimbulkan keresahan di luar negeri, masyarakat Uighur juga sering melakukan aksi kekerasan di dalam negeri China dengan melakukan pembakaran, ataupun penolakan terhadap otoritas China.Sehingga untuk dapat menyelesaikan beberapa konflik yang terus terjadi dan dialami oleh masyarakat minoritas Uighur dapat terselesaikan diperlukan adanya campur tangan pemerintah China dalam memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi.
Dalam mengatasi permasalahan yang terjadi di daerah otonomi China yaitu Provinsi Xinjiang lebih tepatnya pada masyarakat minoritas Uighur mengenai diskriminasi ekonomi yang terjadi di wilayah tersebut membuat pemerintah China lebih memfokuskan adanya pembuatan proyek Xinjiang yang mana dalam proyek tersebut China menginvestasikan 17 Miliar dollar AS untuk ciptakan lapangan pekerjaan. Investasi ini nantinya diharapkan dapat meredam adanya konflik yang sering terjadi di wilayah tersebut antara masyarakat minoritas Uighur dan juga China Han. Proyek Xinjiang yang berupa Investasi ini meliputi proyek tentang lapangan pekerjaan, perumahan, bantuan kemiskinan dan lain sebagainya. Berdasarkan dari komite partai China sekitar 10.000 masyarakat Xinjiang akan menerima 500.000 yuan yang digunakan untuk merangsang pencarian tenaga kerja, selanjutnya 600 juta yuan digunakan untuk bantuan kemiskinan di 1.200 desa di provinsi Xinjiang.[13]
Selain itu pemerintah China dalam menangani konflik mengenai diskriminasi di bidang budaya terutama dalam bahasa. Dalam hal ini pemerintah China mengharuskan seluruh warganya untuk patuh terhadap peraturan seperti contohnya dalam penggunaan bahasa resmi negara China. Kebanyakan masyarakat minoritas muslim Uighur memiliki keterbatasan dalam penggunaan bahasa Mandarin, oleh karena itu untuk mencegah adanya konflik, kesenjangan sosial dan ekonomi dalam pendidikan maupun pekerjaan maka pemerintah China berinisiatif untuk mendorong suku Uighur belajar berbahasa mandarin. Selain mencegah diskriminasi, dorongan belajar bahasa mandarin juga bisa membawa kestabilan dalam masyarakat Uighur di provinsi Xinjiang. Belajar mandarin juga nantinya membuat masyarakat minoritas Uighur dapat bersaing dengan masyarakat lainnya untuk memperoleh pekerjaan dan mengatasi masalah ekonomi lainnya.[14]
Pada kasus mengenai gerakan separatisme yang dilakukan oleh kelompok masyarat minoritas Uighur solusi yang dilakukan pemerintahan China dalam menangani kasus tersebut dengan melakukan beberapa cara yaitu dengan menggunakan kebijakan yang bersifat represif atau memaksa, yang mana untuk menekan kerusuhan dan juga tindakan terorisme yang terjadi di provinsi Xinjiang, pemerintah cenderung menekankan pada militer untuk menyelesaikan kasus gerakan separatisme ini.[15] Selain itu adanya gerakan separatisme dan terorisme yang kebanyakan dilakukan oleh masyarakat muslim minoritas Uighur menjadikan pemerintah China melakukan pembatasan-pembatasan dalam melakukan kegiatan keagamaan. Hal itu ditakutkan oleh pemerintah China akan memecah kestabilan internal dalam negeri negara tersebut. Kebijakan pembatasan kegiatan keagaam bagi muslim Uighur adalah seperti pembatasan memasuki masjid, pembangunan masjid dibatasi, dilarang menumbuhkan jenggot, memakai jilbab dan sebagainya.[16]
Selain melakukan batasan-batasan untuk membuat warga muslim Uighur jauh dari radikalisme, pemerintah China juga melakukan penjaringan yang ketat guna mencegah adanya masyarakat muslim Uighur yang pergi ke negara lain untuk menjadi militan dari kelompok islam radikalisme seperti ISIS , Al Qaida ataupun yang lainnya. Cara tersebut yakni dengan memperketat keamanan di wilayah perbatasan China dan Tibet dan perbatasan lainnya yang sering kali digunakan oleh teorisme dan gerakan separatisme untuk memasuki wilayah China.[17] Perijinan untuk melakukan migrasi ke negara lain oleh masyarakat Uighur juga dipersulit oleh pemerintahan China, yang mana paspor dari masyarakat minoritas China diharuskan untuk menyerahkan paspor kepada pihak yang berwenang China. Jadi setiap warga Uighur yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri harus mengajukan permohonan kepada kantor kepolisian China. Kebijakan tersebut ditetapkan karena mayoritas masyarakat minoritas Uighur yang pergi keluar negeri akan bergabung dengan kelompok militan yang membahayakan keamanan China. Ketakutan pemerintah atas gerakan separatisme di Xinjiang yang membuat muslim minoritas mengalami kebijakan seperti itu.[18]
Solusi dari pemerintah China selanjutnya untuk mengatasi warganya yang menjadi bagian terorisme di Indonesia yakni kelompok Santoso, maka pemerintah China memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan Indonesia dibidang pertahanan dan keamanan yang memfokuskan pada kerjasama menangkal terorisme. Untuk itu kedua negara sama-sama saling memperkuat stabilitas negara agar terhindar dari isu-isu separatisme dan juga terorisme yang menjadi masalah utama kedua negara. Terlebih Indonesia yang terkena dampak dalam kejahatan terorisme tersebut. Kerjasama yang dilakukan oleh Indonesia dan China ini memiliki tujuan agar terorisme dapat terbendung, hal ini dikarenakan dalam kelompok teroris santoso berisi sebagaian warga minoritas muslim Uighur China, yang suatu saat pasti kembali dan menimbulkan keresahan di dalam negara China. [19]  Selain itu solusi yang dilakukan oleh Cina agar warganya tidak kembali bergabung dengan kelompok militan seperti ISIS bukan hanya didasarkan pada kerjasama luar negeri saja, namun kementrian pertahanan China juga menyatakan untuk pengerahan pasukan militernya keluar negeri guna memberantas ISIS yang mana banyak militan dari provinsi Xinjiang khususnya masyarakat minoritas muslim Uighur bergabung didalamnya. Jadi begitulah beberapa solusi yang saat ini dilakukan oleh pemerintah China untuk membendung terorisme dan juga gerakan separatisme Uighur di wilayah Provinsi Xinjiang.[20]




[1] Yoebal Ganesha, Siapakah Bangsa Uighur, diakses dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/16/m0zcbk-siapakah-bangsa-uighur pada 23 September 2017
[2] ibid
[3] Glori K. Wadrianto, Mengenal Muslim Uighur China, Siapa Mereka?,  diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2017/04/10/11592141/mengenal.muslim.uighur.di.china.siapa.mereka. Pada 24 September 2017
[4] Michael Dillon, Uighur Tolak Kebijakan Cina, diakses dari http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2009/07/090707_uighurbackground.shtml pada 24 September 2017
[5] BBC Indonesia, 2014, Suku Uighur, Kelompok Islam Terbesar China, diakses dari http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2014/05/140528_galeri_uighur pada 24 September 2017
[6] Michael Dillon, Uighur Tolak Kebijakan Cina, op.cit
[7] BBC Indonesia, 2009, Merunut Akar Masalah di Xinjiang, diakses dari http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2009/07/090713_uighuranalysis.shtml pada 25 September 2017
[8] Ibid
[9] ibid
[10] 5000 Muslim Uighur China Bergerilya bersama ISIS di Suriah, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2017/05/08/16492991/5.000.muslim.uighur.china.bergerilya.bersama.isis.di.suriah?source=graboards.com pada 25 September 2017
[11] Polri Ungkap Warga Uighur Gabung kelompok Santoso, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160428001336-12-127105/polri-ungkap-alasan-warga-uighur-gabung-kelompok-santoso/ pada 25 September 2017
[12] Jafar M.Sidik, Thailand Waspada Setelah Didatangi dua Uighur Terkait Terorisme, diakses dari http://www.antaranews.com/berita/554421/thailand-waspada-setelah-didatangi-dua-uighur-terkait-teroris pada 25 September 2017
[13] Linda Teti Silitonga, Ekonomi China: Ciptakan Lapangan Kerja, Tiongkok Investasi 17 Miliar Dollar AS untuk Proyek Xinjiang, diakses dari http://finansial.bisnis.com/read/20160305/9/525525/javascript pada 25 September 2017
[14] CNN Indonesia, Warga Uighur Didorong Belajar Bahasa Mandarin, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20141210191717-113-17318/warga-uighur-didorong-belajar-bahasa-mandarin/ pada 25 September 2017
[15] Gita Karisma, Konflik Etnis di Xinjiang : Kebijakan Monokultural dan Kepentingan Negara China terhadap Keutuhan Wilayah, diakses dari jurnal.fisip.unila.ac.id/index.php/sosiologi/article/download/364/275 pada  25 September 2017
[16] Ibid
[17] Riva Dessthania Suastha, 2017, Cegah Separatisme, China Perketat Keamanan Perbatasan Tibet, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170103173635-113-183832/cegah-separatisme-china-perketat-keamanan-perbatasan-tibet/ pada 25 September 2017
[18] BBC Indonesia, Warga Provinsi Xinjiang Cina, Harus Serahkan Paspor, diakses dari  http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38090249 pada 25 September 2017
[19] Hana Azarya Samosir, Indonesia dan China Kerjasama Bendung Arus Militan Uighur, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20160106180519-106-102677/indonesia-dan-china-kerja-sama-bendung-arus-militan-uighur/ pada 25 September 2017
[20] Reuters, China Isyaratkan Akan Ikut Perang Melawan Terorisme, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20151231183930-113-101512/china-isyaratkan-akan-ikut-perang-melawan-terorisme/ pada 25 September 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGUGURAN DAN BLIGHTED OVUM (cerita pribadi)

     Hai, hari ini aku akan sedikit cerita tentang pengalaman hidup aku yang cukup dramatis dan ada sedihnya hehe. Jadi aku menikah pada 28 ...