Nama : Lies
Aisyah Fardini
NIM :
155120407111069
Matkul :
Politik Pemerintahan Cina
Prodi :
Hubungan Internasional
Analisa Permasalahan Terorisme dan
Gerakan Separatisme Uighur di China
Bangsa
Uighur merupakan bangsa yang terdiri dari suku minoritas Uighur di China, yang
mana suku tersebut merupakan keturunan klan Turki yang berada di wilayah Asia
Tengah tepatnya di provinsi Xinjiang. Bangsa Uighur menurut sejarah telah
merdeka dan ditinggal di Uigurishtan
selama 2000 tahun. Namun pada masa pemerintahan Mao Zedong pada tahun 1949,
Cina mengklaim bahwa bangsa dan suku Uighur merupakan bagian dari wilayah
pemerintahan China. Wilayah bangsa Uighur berada pada 1500 mil dari ibukota
China yaitu Beijing dengan luas hampir 1/6 wilayah China dan provinsi bangsa
Uighur yakni Xinjiang merupakan provinsi terbesar di China. Provinsi Xinjiang
berbatasan dengan Kazakhstan, Mongolia, Tajikistan, Afghanistan dan juga
Pakistan.[1]
Bangsa Uighur memiliki perbedaan RAS
dan bahasa dengan China Han, yang mana suku Uighur memiliki wajah atau rupa
yang lebih mirip kepada orang eropa Kaukasus sedangkan masyarakat China Han
lebih menyerupai rupa orang asia.[2] Secara
kultural suku Uighur ini lebih dekat dengan bangsa Turk di Asia Tengah daripada
dengan masyarakat mayoritas China yang lebih dekat dengan kultural bangsa China
han. Sedangkan dalam segi bahasa masyarakat Uighur memiliki bahasa yang berbeda
dengan masyarakat China Han. Dikarenakan adanya paksaan yang membuat bangsa
Uighur menjadi bagian dari wilayah China membuat suku tersebut merasa tertekan
dengan adanya sistem pemerintahan cina yang cenderung komunis. Bangsa Uighur
dipaksa untuk menaati kebijakan pemerintah China seperti penggunaan bahasa, kebijakan
untuk menaati peraturan dari pemerintahan China seperti contohnya yaitu
pembatasan dalam hal beragama.[3]
Setelah menjadi bagian dari warga
negara China, bangsa Uighur belum mendapatkan hak yang sama dengan mayoritas
warga asli China yaitu China Han. Dimana masih terdapat diskriminasi dari
pemerintah kepada suku Uighur. Meski saat ini provinsi Xinjiang menjadi daerah
otonom tapi masih banyak permasalahan yang menimpa suku Uighur, terlebih suku
tersebut merupakan suku minoritas muslim yang berada di negara China. Daerah
otonomi Xinjiang yang dibentuk oleh pemerintahan China memberikan kebebasan
kepada suku Uighur untuk dapat menjadi Gubernur di provinsi tersebut, dan pada
kenyataannya masih banyak masalah yang dialami suku tersebut.[4] Contoh
masalah tersebut yakni saat masyarakat Uighur mengalami ketimpangan ekonomi dan
sosial dibandingkan dengan mayoritas China han yang berada di Provinsi
Xinjiang. Untuk dapat memperoleh pekerjaan dan juga pendidikan suku minoritas
Uighur cenderung sulit untuk mendapatkannya dan membuat suku tersebut merasa
diperlakukan tidak adil. Selain itu, dalam kenyataannya suku Uighur tidak bisa
bebas dalam melakukan ibadah, dikareanakan pemerintahan China tidak ingin
muslim Uighur menjadi suku yang ekstrimis yang nantinya akan melakukan melawan
pemerintah dan kemudian menjadi gerakan separatisme. Contoh peraturan
pemerintah China yang membatasi suku minoritas Uighur beragama adalah seperti
peraturan tidak diperbolehkan untuk berjilbab bagi perempuan, memelihara jenggot,
memakai pakaian keagamaan didepan umum dan mengatur batas usia untuk memasuki
masjid.[5]
Diskriminasi maupun ketimpangan
ekonomi dan sosial yang dialami oleh suku minoritas muslim Uighur membuat
banyak masyarakat tersebut melakukan migrasi untuk mendapatkan kehidupan yang
lebih baik dengan mencari pekerjaan di wilayah bagian China lainnya. Hal yang
menyebabkan adanya diskriminasi dan ketimpangan ini antara lain yaitu karena
adanya ketakutan pemerintah China atas gerakan separatisme warga Uighur untuk
merdeka. Kebijakan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh pemerintah China ialah mengenai
perpindahan masyarakat China Han ke provinsi Xinjiang, yang mana perpindahan
masyarakat Han ini juga menjadi salah satu penyebab masyarakat muslim Uighur
mendapat perlakuan tidak sama karena dalam segi kecakapan berbahasa dan
pendidikan lebih tinggi warga China Han daripada muslim Uighur.[6]
Ketidaksetaraan akan hidup dan
adanya perpindahan masyarakat China han ke provinsi Xinjiang membuat adanya
ketidak puasan dari masyarakat minoritas Uighur yang berujung pada
serangan-serangan kepada warga China Han. Yang mana serangan tersebut
diluncurkan guna menolak kebijakan cina yang seenaknya membuat migrasi China
Han ke provinsi Xinjiang yang sudah terjadi sekitar 30 tahunan kebijakan itu
dibuat. Selain karena kesenjangan ekonomi dan sosial masyarakat Uighur juga
melakukan protes keras terhadap pemerintah karena membatasi hak-hak mereka sebagai
seorang warga negara China yang menimbulkan pergerakan politik melawan
pemerintah China.[7]
Protes yang dilakukan oleh masyarakat Uighur yakni dengan dilakukannya
perlawanan kepada pemerintah secara sporadis, yang mana serangan tersebut
dilakukan dengan menggunakan senjata dengan sasaran polisi dan pejabat China.[8]
Konflik yang terjadi di provinsi
Xinjiang pada permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Uighur yang seakan
tertekan dengan pemerintahan dan kebijakan komunis China selain membuat adanya
ketidaksetaraan juga membuat adanya konflik baru yaitu adanya gerakan
separatisme yang dilakukan oleh bangsa Uighur untuk kembali mendapatkan
kemerdekaan dan terlepas dari kebijkan dan pemerintahan China. Gerakan
separatisme ini dipeloropori dengan banyaknya masyarakat suku minoritas Uighur
yang terlibat dalam kelompok-kelompok militan seperti Al Qaida maupun ISIS.
Orang muslim minoritas Uighur mendapatkan pelatihan dari kelompok-kelompok
militan untuk berlatih tempur.[9] Ada
kurang lebih 5000 masyarakat Uighur dari daerah Xinjiang yang dinyatakan
menjadi bagian dari kelompok militan di Suriah yakni kelompok militan ISIS.
Jumlah masyarakat yang tergabung dalam kelompok tersebut disampaikan oleh Duta
Besar Suriah atas China yakni Imad Moustapha. Duta besar Suriah menyatakan
bahwa alasan muslim minoritas Uighur bergabung dengan kelompok ISIS adalah
karena faktor ingin mempromosikan alasan mereka kepada dunia bahwa ingin
melakukan gerakan separatis terhadap negara China, selain itu faktor yang
lainnya yaitu fokus terhadap gerakan jihadis islam di wilayah Suriah. Duta
Besar Suriah menghimbau kepada pemerintah China untuk lebih fokus dan peka
terhadap masyarakat muslim Uighur, karena bisa jadi gerakan bergabungnya muslim
minoritas Uighur ke ISIS terjadi karena pemerintah China tidak bisa adil dengan
warga negara Uighur.[10]
Selain bergabung ke dalam kelompok
militan muslim ISIS, minoritas suku Uighur khususnya dikalangan pemuda
bergabung dengan kelompok-kelompok terorisme yang berada di wilayah Asia. Seperti
pada khususnya gabungnya masyarakat muslim minoritas Uighur China kedalam
terorisme yang terjadi di wiliayah Indonesia tepatnya di Poso. Beberapa
masyarakat Uighur bergabung dengan kelompok santoso karena memiliki kesamaan
ideologi perjuangan dengan kelompok tersebut.[11]
Selain di Indonesia kelompok Uighur juga melakukan tindak terorisme di
Thailand, yang mana ada beberapa kelompok suku Uighur yang sedang berlibur di
China dan kemudian melakukan pengeboman kuil di Bangkok, Thailand pada 17
Agustus 2015 yang menyebabkan kurang lebih dua puluh orang tewas akibat
serangan tersebut.[12]
Beberapa kasus yang membuat masyarakat minoritas muslim Uighur melakukan
migrasi dan juga menjadi teroris untuk dapat melakukan gerakan separatisme
salah satunya adalah karena tekanan yang diterima oleh muslim tersebut di
negaranya sendiri yakni negara China. Selain menimbulkan keresahan di luar negeri,
masyarakat Uighur juga sering melakukan aksi kekerasan di dalam negeri China
dengan melakukan pembakaran, ataupun penolakan terhadap otoritas China.Sehingga
untuk dapat menyelesaikan beberapa konflik yang terus terjadi dan dialami oleh
masyarakat minoritas Uighur dapat terselesaikan diperlukan adanya campur tangan
pemerintah China dalam memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi.
Dalam
mengatasi permasalahan yang terjadi di daerah otonomi China yaitu Provinsi
Xinjiang lebih tepatnya pada masyarakat minoritas Uighur mengenai diskriminasi
ekonomi yang terjadi di wilayah tersebut membuat pemerintah China lebih
memfokuskan adanya pembuatan proyek Xinjiang yang mana dalam proyek tersebut
China menginvestasikan 17 Miliar dollar AS untuk ciptakan lapangan pekerjaan.
Investasi ini nantinya diharapkan dapat meredam adanya konflik yang sering
terjadi di wilayah tersebut antara masyarakat minoritas Uighur dan juga China
Han. Proyek Xinjiang yang berupa Investasi ini meliputi proyek tentang lapangan
pekerjaan, perumahan, bantuan kemiskinan dan lain sebagainya. Berdasarkan dari
komite partai China sekitar 10.000 masyarakat Xinjiang akan menerima 500.000
yuan yang digunakan untuk merangsang pencarian tenaga kerja, selanjutnya 600
juta yuan digunakan untuk bantuan kemiskinan di 1.200 desa di provinsi
Xinjiang.[13]
Selain
itu pemerintah China dalam menangani konflik mengenai diskriminasi di bidang
budaya terutama dalam bahasa. Dalam hal ini pemerintah China mengharuskan
seluruh warganya untuk patuh terhadap peraturan seperti contohnya dalam
penggunaan bahasa resmi negara China. Kebanyakan masyarakat minoritas muslim
Uighur memiliki keterbatasan dalam penggunaan bahasa Mandarin, oleh karena itu
untuk mencegah adanya konflik, kesenjangan sosial dan ekonomi dalam pendidikan
maupun pekerjaan maka pemerintah China berinisiatif untuk mendorong suku Uighur
belajar berbahasa mandarin. Selain mencegah diskriminasi, dorongan belajar
bahasa mandarin juga bisa membawa kestabilan dalam masyarakat Uighur di
provinsi Xinjiang. Belajar mandarin juga nantinya membuat masyarakat minoritas
Uighur dapat bersaing dengan masyarakat lainnya untuk memperoleh pekerjaan dan
mengatasi masalah ekonomi lainnya.[14]
Pada
kasus mengenai gerakan separatisme yang dilakukan oleh kelompok masyarat
minoritas Uighur solusi yang dilakukan pemerintahan China dalam menangani kasus
tersebut dengan melakukan beberapa cara yaitu dengan menggunakan kebijakan yang
bersifat represif atau memaksa, yang mana untuk menekan kerusuhan dan juga
tindakan terorisme yang terjadi di provinsi Xinjiang, pemerintah cenderung
menekankan pada militer untuk menyelesaikan kasus gerakan separatisme ini.[15] Selain
itu adanya gerakan separatisme dan terorisme yang kebanyakan dilakukan oleh
masyarakat muslim minoritas Uighur menjadikan pemerintah China melakukan
pembatasan-pembatasan dalam melakukan kegiatan keagamaan. Hal itu ditakutkan
oleh pemerintah China akan memecah kestabilan internal dalam negeri negara
tersebut. Kebijakan pembatasan kegiatan keagaam bagi muslim Uighur adalah
seperti pembatasan memasuki masjid, pembangunan masjid dibatasi, dilarang
menumbuhkan jenggot, memakai jilbab dan sebagainya.[16]
Selain
melakukan batasan-batasan untuk membuat warga muslim Uighur jauh dari
radikalisme, pemerintah China juga melakukan penjaringan yang ketat guna
mencegah adanya masyarakat muslim Uighur yang pergi ke negara lain untuk
menjadi militan dari kelompok islam radikalisme seperti ISIS , Al Qaida ataupun
yang lainnya. Cara tersebut yakni dengan memperketat keamanan di wilayah
perbatasan China dan Tibet dan perbatasan lainnya yang sering kali digunakan
oleh teorisme dan gerakan separatisme untuk memasuki wilayah China.[17]
Perijinan untuk melakukan migrasi ke negara lain oleh masyarakat Uighur juga
dipersulit oleh pemerintahan China, yang mana paspor dari masyarakat minoritas
China diharuskan untuk menyerahkan paspor kepada pihak yang berwenang China.
Jadi setiap warga Uighur yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri harus
mengajukan permohonan kepada kantor kepolisian China. Kebijakan tersebut
ditetapkan karena mayoritas masyarakat minoritas Uighur yang pergi keluar
negeri akan bergabung dengan kelompok militan yang membahayakan keamanan China.
Ketakutan pemerintah atas gerakan separatisme di Xinjiang yang membuat muslim
minoritas mengalami kebijakan seperti itu.[18]
Solusi
dari pemerintah China selanjutnya untuk mengatasi warganya yang menjadi bagian
terorisme di Indonesia yakni kelompok Santoso, maka pemerintah China memutuskan
untuk menjalin kerjasama dengan Indonesia dibidang pertahanan dan keamanan yang
memfokuskan pada kerjasama menangkal terorisme. Untuk itu kedua negara
sama-sama saling memperkuat stabilitas negara agar terhindar dari isu-isu
separatisme dan juga terorisme yang menjadi masalah utama kedua negara.
Terlebih Indonesia yang terkena dampak dalam kejahatan terorisme tersebut.
Kerjasama yang dilakukan oleh Indonesia dan China ini memiliki tujuan agar
terorisme dapat terbendung, hal ini dikarenakan dalam kelompok teroris santoso
berisi sebagaian warga minoritas muslim Uighur China, yang suatu saat pasti kembali
dan menimbulkan keresahan di dalam negara China. [19] Selain itu solusi yang dilakukan oleh Cina
agar warganya tidak kembali bergabung dengan kelompok militan seperti ISIS bukan
hanya didasarkan pada kerjasama luar negeri saja, namun kementrian pertahanan
China juga menyatakan untuk pengerahan pasukan militernya keluar negeri guna
memberantas ISIS yang mana banyak militan dari provinsi Xinjiang khususnya
masyarakat minoritas muslim Uighur bergabung didalamnya. Jadi begitulah
beberapa solusi yang saat ini dilakukan oleh pemerintah China untuk membendung
terorisme dan juga gerakan separatisme Uighur di wilayah Provinsi Xinjiang.[20]
[1] Yoebal
Ganesha, Siapakah Bangsa Uighur, diakses dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/03/16/m0zcbk-siapakah-bangsa-uighur
pada 23 September 2017
[2] ibid
[3] Glori K.
Wadrianto, Mengenal Muslim Uighur China, Siapa Mereka?, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2017/04/10/11592141/mengenal.muslim.uighur.di.china.siapa.mereka.
Pada 24 September 2017
[4] Michael
Dillon, Uighur Tolak Kebijakan Cina, diakses dari
http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2009/07/090707_uighurbackground.shtml
pada 24 September 2017
[5] BBC
Indonesia, 2014, Suku Uighur, Kelompok Islam Terbesar China, diakses dari http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2014/05/140528_galeri_uighur
pada 24 September 2017
[6] Michael
Dillon, Uighur Tolak Kebijakan Cina, op.cit
[7] BBC
Indonesia, 2009, Merunut Akar Masalah di Xinjiang, diakses dari http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2009/07/090713_uighuranalysis.shtml
pada 25 September 2017
[8] Ibid
[9] ibid
[10] 5000
Muslim Uighur China Bergerilya bersama ISIS di Suriah, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2017/05/08/16492991/5.000.muslim.uighur.china.bergerilya.bersama.isis.di.suriah?source=graboards.com
pada 25 September 2017
[11] Polri
Ungkap Warga Uighur Gabung kelompok Santoso, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160428001336-12-127105/polri-ungkap-alasan-warga-uighur-gabung-kelompok-santoso/
pada 25 September 2017
[12] Jafar
M.Sidik, Thailand Waspada Setelah Didatangi dua Uighur Terkait Terorisme,
diakses dari http://www.antaranews.com/berita/554421/thailand-waspada-setelah-didatangi-dua-uighur-terkait-teroris
pada 25 September 2017
[13] Linda
Teti Silitonga, Ekonomi China: Ciptakan Lapangan Kerja, Tiongkok Investasi 17
Miliar Dollar AS untuk Proyek Xinjiang, diakses dari http://finansial.bisnis.com/read/20160305/9/525525/javascript
pada 25 September 2017
[14] CNN
Indonesia, Warga Uighur Didorong Belajar Bahasa Mandarin, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20141210191717-113-17318/warga-uighur-didorong-belajar-bahasa-mandarin/
pada 25 September 2017
[15] Gita
Karisma, Konflik Etnis di Xinjiang : Kebijakan Monokultural dan Kepentingan
Negara China terhadap Keutuhan Wilayah, diakses dari jurnal.fisip.unila.ac.id/index.php/sosiologi/article/download/364/275
pada 25 September 2017
[16] Ibid
[17] Riva
Dessthania Suastha, 2017, Cegah Separatisme, China Perketat Keamanan Perbatasan
Tibet, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170103173635-113-183832/cegah-separatisme-china-perketat-keamanan-perbatasan-tibet/
pada 25 September 2017
[18] BBC
Indonesia, Warga Provinsi Xinjiang Cina, Harus Serahkan Paspor, diakses
dari http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38090249
pada 25 September 2017
[19] Hana
Azarya Samosir, Indonesia dan China Kerjasama Bendung Arus Militan Uighur,
diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20160106180519-106-102677/indonesia-dan-china-kerja-sama-bendung-arus-militan-uighur/
pada 25 September 2017
[20]
Reuters, China Isyaratkan Akan Ikut Perang Melawan Terorisme, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20151231183930-113-101512/china-isyaratkan-akan-ikut-perang-melawan-terorisme/
pada 25 September 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar