Kamis, 25 Januari 2018

Analisis Munculnya kehadiran Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA)


Nama   : Lies Aisyah Fardini
NIM    : 155120407111069
Matkul : Gerakan Sosial Global
Prodi   : Hubungan Internasional
Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) merupakan sebuah kelompok militan Rohingya yang melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintah Myanmar dengan tujuan agar warga Rohingya dapat diakui sebagai warga negara Myanmar. Selain itu kelompok militan ini juga menyerukan agar pemerintah Myanmar terus menyerukan penumpasan diskrimasi dan kekerasan yang berkepanjangan yang menimpa etnis minoritas di negara tersebut.[1]
Latar belakang munculnya kelompok militan ini disebabkan karena adanya konflik Rohingya di Myanmar yang terjadi sejak lama dan belum mendapatkan penyelesaian dari pemerintah Myanmar. Awalnya konflik Myanmar terjadi pada 2012 dimana banyak warga Rakhine, Rohingya dipaksa untuk meninggalkan desa oleh pemerintah Myanmar karena warga Rohingya dianggap sebagai imigran dari Bangladesh. Kekerasan dan Konflik yang terjadi di Myanmar sampai pada puncaknya yaitu pada tahun 2016 yang mana hal itu menyebabkan terjadinya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) secara besar-besaran di Rohingya. Kekerasan dan diskrimanasi yang berkelanjutan itulah yang menjadi latarbelakang munculnya kelompok militan ARSA, dimana kelompok ini mulai muncul pada 29 Agustus 2017 dan kelompok tersebut awalnya bernama Harakah Al Yaqin (Gerakan Iman). Kelompok ini juga terbentuk juga sesuai dengan arti dari nama kelompoknya yakni lebih kepada bertujuan untuk melawan Myanmar atas dasar keimanan Islam. [2]
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemunculan kelompok militan ARSA ini antara lain adalah dikarenakan karena adanya kekerasan yang terus terjadi di wilayah Rakhine, Rohingya. Hal tersebut membuat kelompok militan ARSA melakukan perlawanan kepada militer Myanmar agar meminta warga Rohingnya diakui sebagai warga negara oleh Myanmar. Kelompok ini muncul dan dikepalai dan dibimbing oleh seorang warga Rohingya yang berbasis di Mekkah yaitu Ata Ullah, yang mana ia mengkordinir beberapa warga Rakhine membentuk militan bersenjata. Kelompok ini menggunakan pendekatan senjata dikarenakan guna untuk taktik pembalasan terhadap militer Myanmar.[3]
Selain itu faktor yang mempengaruhi kemunculan kelompok ini yaitu adanya kesadaran dari beberapa warga Rohingya untuk mengatasi konflik, dimana banyak para pemuda yang ikut bergabung dalam kelompok militan ARSA dalam melawan tidak pelanggaran HAM dan diskriminasi diwilayah tersebut. Kelompok militan Arsa sejatinya akan bertambah besar apabila permasalah Rohingya tidak segera diselesaikan, dikarenakan setiap harinya perekrutan terhadap kelompok militan ini semakin hari semakin bertambah jumlahnya.[4]
Kondisi Struktural yang dihadapi oleh kelompok militan ARSA adalah bahwa kelompok militan tersebut saat ini sedang diburu oleh kelompok militer Myanmar dikarenakan sejumlah aksinya dalam penyerangan pos-pos polisi di Rakhine, Myanmar yang kemudian menewaskan sejumlah polisi dan militer disana. Selain itu kelompok militan ARSA juga diidentifikasi sebagai kumpulan teroris, yang mana mereka melakukan aksi dengan menggunakan senjata yang ditujukan kepada pemerintah dan militer untuk meminta agar warga Rohingya dapat memiliki identitas sebagai warga negara Myanmar. Pengrekrutan militan ARSA juga sampai saat ini bertambah dan bisa jadi hal tersebut membuat sebuah jaringan yang besar yang nantinya akan berubah sebagai sebuah kelompok bersenjata yang dapat mengancam pemerintahan Myanmar. Disisi lain kelompok militan ini dalam perkembangannya tidak selalu membawa dampak baik bagi masyarakat Rohingya sendiri, dikarenakan akibat dari serangan-serangan yang dilakukan oleh kelompok militan ARSA nyatanya juga membuat warga Rohingya mendapat sentimen buruk dari militer dan warga budha yang ada di Myanmar. Kondisi itu membuat beberapa warga Rohingya menyesali perbuatan militan ARSA dan beberapa pemuda pun justru mendukung kelompok tersebut dikarenakan ingin membuat pemerintah Myanmar sadar kalau Rohingya adalah bagian dari warga negaranya dan meminta pemerintah untuk tidak mendiskriminasi dan melakukan kejahatan HAM.[5]
Dari beberapa pernyataan diatas dapat dilakukan analisa mengenai kelompok militan ARSA dengan pendekatan teori gerakan sosial global. Analisa ini menggunakan pendekatan New Social Movement (Gerakan Sosial baru). Gerakan sosial baru ini memiliki pengertian bahwa munculnya gerakan baru ini menekankan pada isu-isu seperti identitas, budaya, ideologi, sosial integrasi, lingkungan dan sebagainya. Gerakan sosial baru ini menginginkan adanya perubahan transformasi sosial dan menentang kondisi sosial yang saat itu terjadi.[6] Seperti pada kelompok militan ARSA dimana kelompok tersebut menentang dan menginginkan adanya perubahan sosial didalam pemerintahan Myanmar untuk tidak melakukan diskriminasi dan pemberhentian kekerasan Hak Asasi Manusia (HAM) oleh militer yang menyebabkan ribuan masyarakat Rohingya tidak memiliki tempat tinggal dan memilik untuk bermigrasi ke negara lainnya untuk mendapatkan perlindungan. Pertentangan tersebut dilakukan dengan melakukan serangan terhadap pos-pos polisi dan militer di wilayah Rohingya.
Pendekatan Gerakan Sosial Baru yang menekankan pada identitas dalam kasus yang berada di Rohingya, dimana masyarakat minoritas muslim Rohingya tidak memiliki hak kewarganegaraan Myanmar.[7] Penolakan oleh mayoritas warga dan pemerintah myanmar yang memeluk agama Budha juga membuat adanya sentimen sehingga terjadi banyak kasus yang melanggar HAM. Maka dari itu kelompok militan ARSA yang merupakan kelompok militan muslim melakukan melakukan adanya perubahan sosial untuk menjadikan pemerintahan Rohingya lebih baik sesuai dengan syariat islam dan menolak pemerintahan Myanmar.
Kelompok militan ARSA dalam strateginya memiliki adanya ketua yang mengkordinir jalannya kelompok tersebut, yang mana ketua kelompok ini yakni Ata Ullah memastikan keefektifan dan juga penggunaan sumber daya yang efisien.[8] Seperti pada penyerangan pos polisi dan militer yang dilakukan oleh ARSA, para militan menggunakan taktik dan strategi jitu yaitu dengan menguasai pos-pos dan juga melakukan merampas senjata dari militer sebagai suatu balasan mengenai kekerasan yang selama ini terjadi di Rohingya. Strategi tersebut dijadikan sebagai suatu hal yang membuat kelompok militan ARSA dapat menyalurkan kepentingannya sebagai bagian dari kelompok yang membela nasib warga muslim Rohingya, meski dengan menggunakan senjata dalam pergerakannya.
Selain menggunakan pendekatan new social movement, gerakan kelompok militan ARSA juga bisa dianalisis menggunakan pendekatan teori aktor rasional. Dalam teori ini analisis munculnya kehadiran kelompok militan ARSA dapat dilihat dari tiga cara yaitu mengidentifikasi kepentingan dan tujuan dari kelompok militan ARSA, mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan pergerakan yang akan dilakukan, dan kemudian mengidentifikasi tindakan rasional untuk dapat mencapai tujuan dan kepentingan.[9]
Yang pertama yaitu mengidentifikasi kehadiran militan ARSA yang dilihat dari kepentingan dan tujuannya. Jadi kepentingan yang menjadikan ARSA muncul untuk melawan pemerintah Myanmar dan pemerintahannya dikarenakan adanya latar belakang kasus kekerasan dan diskriminasi yang menimpa masyarakat muslim Rohingya, sehingga ada banyak warga Rohingya terusir dan menjadi imigran guna menyelamatkan diri dari kekejaman militer Myanmar. Sedangkan tujuan dari gerakan kelompok militan ARSA ini adalah untuk melakukan pembalasan kepada serangan-serangan yang telah dilakukan oleh militer Myanmar terhadap warga minoritas muslim Rohingya, sehingga pemerintah Myanmar memberikan hak warga Rohingya untuk menjadi bagian dari warga yang diakui oleh negara Myanmar. Selain itu kelompok ARSA juga ingin menegakkan sistem hukum Islam diwilayah Rakhine, Rohingya.[10]
Yang kedua, mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dari gerakan kelompok militan ARSA yaitu pada sisi kelebihan yang dimiliki oleh gerakan ini adalah bahwa gerakan ini dipelopori dan didanai oleh jaringan yang berada di luar negeri, sehingga gerakan ini dapat berkembang pesat dengan melakukan perekrutan terhadap pemuda Rohingya untuk bertempur melawan Myanmar dan membela masyarakat muslim Rohingya untuk mendapatkan kembali hak nya sebagai warga negara Myanmar. Selain itu kelebihan dari gerakan ini memiliki strategi dan taktik yang baik sehingga dapat masuk kepada pos-pos polisi di wilayah tersebut. Kelemahan dari gerakan kelompok militan Rohingya ini adalah bahwa gerakan ini cenderung pada kekerasan yang ditujukan kepada militer dan pemerintahan Myanmar. Sehingga kekerasan yang dilakukan oleh ARSA justru cenderung memperparah keadaan dan memicu pembalasan yang dilakukan oleh pihak militer Myanmar untuk lebih melakukan kekerasan terhadap minoritas Rohingya sehingga makin banyak warga yang kehilangan tempat tinggal dan menjadi imigran.[11]
Yang ketiga mengidentifikasi tindakan rasional dari ARSA untuk dapat mencapai kepentingan dan tujuannya yaitu kelompok militan ARSA melakukan pembelaan muslim Rohingya dan penyerangan kepada militer dan pemerintah Myanmar, yang nantinya tindakan ini dirasa dapat membuat pemerintah Myanmar membuka mata dan menyelesaikan kasus Rohingya. Sehingga diskriminasi dan kekerasan HAM tidak terus menerus terjadi diwilayah tersebut. Tindakan penyerangan oleh kelompok militan ARSA ini dilakukan guna masyarakat Rohingya sadar akan konflik yang terus menerus menimpa kelompok minoritas Rohingya. Sehingga jalan satu-satunya untuk dapat melawan militer dan pemerintah Myanmar adalah dengan cara menjadi kelompok militan bersenjata.[12]



[1] Riva Dessthania Suastha, 2017, Mengenal ARSA Kelompok Bersenjata Rohingya Musuh Myanmar, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170911163546-106-240976/mengenal-arsa-kelompok-bersenjata-rohingya-musuh-myanmar/ pada 21 September 2017
[2] Bambang Noyorono, 2017, ARSA Sepak Terjang Tentara Rohingya di Rakhine , diakses dari http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/09/05/ovso33-arsa-sepak-terjang-tentara-rohingya-di-rakhine pada 21 September 2017
[3] Ibid
[6] Marjorie Mayo, Global Citizens : Social Movement and The Challenge of Globalizations, Hlm 61
[7] Ibid, hlm 61
[8] Ibid, hlm 69
[9] Nick Crossley, Making Sense of Social Movement, hlm 56-59
[11] Novi Christiastuti, loc.cit
[12] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGUGURAN DAN BLIGHTED OVUM (cerita pribadi)

     Hai, hari ini aku akan sedikit cerita tentang pengalaman hidup aku yang cukup dramatis dan ada sedihnya hehe. Jadi aku menikah pada 28 ...