Nama : Lies Aisyah Fardini
NIM : 155120407111069
Matkul : Gerakan Sosial Global
Prodi : Hubungan Internasional
Arakan Rohingya
Salvation Army (ARSA) merupakan sebuah kelompok militan
Rohingya yang melakukan gerakan perlawanan terhadap pemerintah Myanmar dengan
tujuan agar warga Rohingya dapat diakui sebagai warga negara Myanmar. Selain
itu kelompok militan ini juga menyerukan agar pemerintah Myanmar terus
menyerukan penumpasan diskrimasi dan kekerasan yang berkepanjangan yang menimpa
etnis minoritas di negara tersebut.[1]
Latar
belakang munculnya kelompok militan ini disebabkan karena adanya konflik
Rohingya di Myanmar yang terjadi sejak lama dan belum mendapatkan penyelesaian
dari pemerintah Myanmar. Awalnya konflik Myanmar terjadi pada 2012 dimana
banyak warga Rakhine, Rohingya dipaksa untuk meninggalkan desa oleh pemerintah
Myanmar karena warga Rohingya dianggap sebagai imigran dari Bangladesh.
Kekerasan dan Konflik yang terjadi di Myanmar sampai pada puncaknya yaitu pada
tahun 2016 yang mana hal itu menyebabkan terjadinya pelanggaran Hak Asasi
Manusia (HAM) secara besar-besaran di Rohingya. Kekerasan dan diskrimanasi yang
berkelanjutan itulah yang menjadi latarbelakang munculnya kelompok militan
ARSA, dimana kelompok ini mulai muncul pada 29 Agustus 2017 dan kelompok
tersebut awalnya bernama Harakah Al Yaqin (Gerakan Iman). Kelompok ini juga
terbentuk juga sesuai dengan arti dari nama kelompoknya yakni lebih kepada
bertujuan untuk melawan Myanmar atas dasar keimanan Islam. [2]
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kemunculan kelompok militan ARSA ini antara lain adalah
dikarenakan karena adanya kekerasan yang terus terjadi di wilayah Rakhine,
Rohingya. Hal tersebut membuat kelompok militan ARSA melakukan perlawanan
kepada militer Myanmar agar meminta warga Rohingnya diakui sebagai warga negara
oleh Myanmar. Kelompok ini muncul dan dikepalai dan dibimbing oleh seorang
warga Rohingya yang berbasis di Mekkah yaitu Ata Ullah, yang mana ia
mengkordinir beberapa warga Rakhine membentuk militan bersenjata. Kelompok ini
menggunakan pendekatan senjata dikarenakan guna untuk taktik pembalasan
terhadap militer Myanmar.[3]
Selain
itu faktor yang mempengaruhi kemunculan kelompok ini yaitu adanya kesadaran
dari beberapa warga Rohingya untuk mengatasi konflik, dimana banyak para pemuda
yang ikut bergabung dalam kelompok militan ARSA dalam melawan tidak pelanggaran
HAM dan diskriminasi diwilayah tersebut. Kelompok militan Arsa sejatinya akan
bertambah besar apabila permasalah Rohingya tidak segera diselesaikan,
dikarenakan setiap harinya perekrutan terhadap kelompok militan ini semakin hari
semakin bertambah jumlahnya.[4]
Kondisi
Struktural yang dihadapi oleh kelompok militan ARSA adalah bahwa kelompok
militan tersebut saat ini sedang diburu oleh kelompok militer Myanmar
dikarenakan sejumlah aksinya dalam penyerangan pos-pos polisi di Rakhine,
Myanmar yang kemudian menewaskan sejumlah polisi dan militer disana. Selain itu
kelompok militan ARSA juga diidentifikasi sebagai kumpulan teroris, yang mana
mereka melakukan aksi dengan menggunakan senjata yang ditujukan kepada
pemerintah dan militer untuk meminta agar warga Rohingya dapat memiliki
identitas sebagai warga negara Myanmar. Pengrekrutan militan ARSA juga sampai
saat ini bertambah dan bisa jadi hal tersebut membuat sebuah jaringan yang
besar yang nantinya akan berubah sebagai sebuah kelompok bersenjata yang dapat
mengancam pemerintahan Myanmar. Disisi lain kelompok militan ini dalam
perkembangannya tidak selalu membawa dampak baik bagi masyarakat Rohingya
sendiri, dikarenakan akibat dari serangan-serangan yang dilakukan oleh kelompok
militan ARSA nyatanya juga membuat warga Rohingya mendapat sentimen buruk dari
militer dan warga budha yang ada di Myanmar. Kondisi itu membuat beberapa warga
Rohingya menyesali perbuatan militan ARSA dan beberapa pemuda pun justru
mendukung kelompok tersebut dikarenakan ingin membuat pemerintah Myanmar sadar
kalau Rohingya adalah bagian dari warga negaranya dan meminta pemerintah untuk
tidak mendiskriminasi dan melakukan kejahatan HAM.[5]
Dari
beberapa pernyataan diatas dapat dilakukan analisa mengenai kelompok militan
ARSA dengan pendekatan teori gerakan sosial global. Analisa ini menggunakan pendekatan
New Social Movement (Gerakan Sosial
baru). Gerakan sosial baru ini memiliki pengertian bahwa munculnya gerakan baru
ini menekankan pada isu-isu seperti identitas, budaya, ideologi, sosial
integrasi, lingkungan dan sebagainya. Gerakan sosial baru ini menginginkan
adanya perubahan transformasi sosial dan menentang kondisi sosial yang saat itu
terjadi.[6]
Seperti pada kelompok militan ARSA dimana kelompok tersebut menentang dan
menginginkan adanya perubahan sosial didalam pemerintahan Myanmar untuk tidak
melakukan diskriminasi dan pemberhentian kekerasan Hak Asasi Manusia (HAM) oleh
militer yang menyebabkan ribuan masyarakat Rohingya tidak memiliki tempat
tinggal dan memilik untuk bermigrasi ke negara lainnya untuk mendapatkan
perlindungan. Pertentangan tersebut dilakukan dengan melakukan serangan
terhadap pos-pos polisi dan militer di wilayah Rohingya.
Pendekatan
Gerakan Sosial Baru yang menekankan pada identitas dalam kasus yang berada di
Rohingya, dimana masyarakat minoritas muslim Rohingya tidak memiliki hak
kewarganegaraan Myanmar.[7] Penolakan
oleh mayoritas warga dan pemerintah myanmar yang memeluk agama Budha juga
membuat adanya sentimen sehingga terjadi banyak kasus yang melanggar HAM. Maka
dari itu kelompok militan ARSA yang merupakan kelompok militan muslim melakukan
melakukan adanya perubahan sosial untuk menjadikan pemerintahan Rohingya lebih
baik sesuai dengan syariat islam dan menolak pemerintahan Myanmar.
Kelompok
militan ARSA dalam strateginya memiliki adanya ketua yang mengkordinir jalannya
kelompok tersebut, yang mana ketua kelompok ini yakni Ata Ullah memastikan
keefektifan dan juga penggunaan sumber daya yang efisien.[8]
Seperti pada penyerangan pos polisi dan militer yang dilakukan oleh ARSA, para
militan menggunakan taktik dan strategi jitu yaitu dengan menguasai pos-pos dan
juga melakukan merampas senjata dari militer sebagai suatu balasan mengenai
kekerasan yang selama ini terjadi di Rohingya. Strategi tersebut dijadikan
sebagai suatu hal yang membuat kelompok militan ARSA dapat menyalurkan
kepentingannya sebagai bagian dari kelompok yang membela nasib warga muslim
Rohingya, meski dengan menggunakan senjata dalam pergerakannya.
Selain
menggunakan pendekatan new social
movement, gerakan kelompok militan ARSA juga bisa dianalisis menggunakan
pendekatan teori aktor rasional. Dalam teori ini analisis munculnya kehadiran
kelompok militan ARSA dapat dilihat dari tiga cara yaitu mengidentifikasi
kepentingan dan tujuan dari kelompok militan ARSA, mengidentifikasi kelemahan
dan kelebihan pergerakan yang akan dilakukan, dan kemudian mengidentifikasi
tindakan rasional untuk dapat mencapai tujuan dan kepentingan.[9]
Yang
pertama yaitu mengidentifikasi kehadiran militan ARSA yang dilihat dari
kepentingan dan tujuannya. Jadi kepentingan yang menjadikan ARSA muncul untuk
melawan pemerintah Myanmar dan pemerintahannya dikarenakan adanya latar
belakang kasus kekerasan dan diskriminasi yang menimpa masyarakat muslim
Rohingya, sehingga ada banyak warga Rohingya terusir dan menjadi imigran guna
menyelamatkan diri dari kekejaman militer Myanmar. Sedangkan tujuan dari
gerakan kelompok militan ARSA ini adalah untuk melakukan pembalasan kepada
serangan-serangan yang telah dilakukan oleh militer Myanmar terhadap warga
minoritas muslim Rohingya, sehingga pemerintah Myanmar memberikan hak warga
Rohingya untuk menjadi bagian dari warga yang diakui oleh negara Myanmar.
Selain itu kelompok ARSA juga ingin menegakkan sistem hukum Islam diwilayah
Rakhine, Rohingya.[10]
Yang
kedua, mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dari gerakan kelompok militan ARSA
yaitu pada sisi kelebihan yang dimiliki oleh gerakan ini adalah bahwa gerakan
ini dipelopori dan didanai oleh jaringan yang berada di luar negeri, sehingga
gerakan ini dapat berkembang pesat dengan melakukan perekrutan terhadap pemuda
Rohingya untuk bertempur melawan Myanmar dan membela masyarakat muslim Rohingya
untuk mendapatkan kembali hak nya sebagai warga negara Myanmar. Selain itu
kelebihan dari gerakan ini memiliki strategi dan taktik yang baik sehingga
dapat masuk kepada pos-pos polisi di wilayah tersebut. Kelemahan dari gerakan
kelompok militan Rohingya ini adalah bahwa gerakan ini cenderung pada kekerasan
yang ditujukan kepada militer dan pemerintahan Myanmar. Sehingga kekerasan yang
dilakukan oleh ARSA justru cenderung memperparah keadaan dan memicu pembalasan
yang dilakukan oleh pihak militer Myanmar untuk lebih melakukan kekerasan terhadap
minoritas Rohingya sehingga makin banyak warga yang kehilangan tempat tinggal
dan menjadi imigran.[11]
Yang
ketiga mengidentifikasi tindakan rasional dari ARSA untuk dapat mencapai
kepentingan dan tujuannya yaitu kelompok militan ARSA melakukan pembelaan
muslim Rohingya dan penyerangan kepada militer dan pemerintah Myanmar, yang
nantinya tindakan ini dirasa dapat membuat pemerintah Myanmar membuka mata dan
menyelesaikan kasus Rohingya. Sehingga diskriminasi dan kekerasan HAM tidak
terus menerus terjadi diwilayah tersebut. Tindakan penyerangan oleh kelompok
militan ARSA ini dilakukan guna masyarakat Rohingya sadar akan konflik yang
terus menerus menimpa kelompok minoritas Rohingya. Sehingga jalan satu-satunya
untuk dapat melawan militer dan pemerintah Myanmar adalah dengan cara menjadi
kelompok militan bersenjata.[12]
[1] Riva
Dessthania Suastha, 2017, Mengenal ARSA Kelompok Bersenjata Rohingya Musuh
Myanmar, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170911163546-106-240976/mengenal-arsa-kelompok-bersenjata-rohingya-musuh-myanmar/
pada 21 September 2017
[2] Bambang
Noyorono, 2017, ARSA Sepak Terjang Tentara Rohingya di Rakhine , diakses dari http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/09/05/ovso33-arsa-sepak-terjang-tentara-rohingya-di-rakhine
pada 21 September 2017
[3] Ibid
[4] Riva
Dessthiana Suastha, 2017, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170911163546-106-240976/mengenal-arsa-kelompok-bersenjata-rohingya-musuh-myanmar/
pada 21 September 2017
[5] Novi
Christiastuti, 2017, Myanmar Meminta Warga Rohingya Bantu Buru Militan di
Rakhine, diakses dari https://news.detik.com/internasional/d-3627329/myanmar-minta-warga-rohingya-bantu-buru-militan-di-rakhine?utm_medium=oa&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_source=facebook&utm_content=detikcom
pada 22 September 2017
[6] Marjorie
Mayo, Global Citizens : Social Movement and The Challenge of Globalizations, Hlm
61
[7] Ibid,
hlm 61
[8] Ibid,
hlm 69
[9] Nick
Crossley, Making Sense of Social Movement, hlm 56-59
[10] Riva
Dessthiana Suastha, 2017, diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170911163546-106-240976/mengenal-arsa-kelompok-bersenjata-rohingya-musuh-myanmar/
pada 21 September 2017
[11] Novi
Christiastuti, loc.cit
[12] Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar