Nama : Lies
Aisyah Fardini
NIM :
155120407111069
Matkul : Politik Kerjasama Internasional
Sanksi
Ekonomi Amerika Serikat dan Rusia pada Tahun 2014
Sampai
saat ini definisi timbal balik (reciprocity)
masih ambigu, dikarenakan setiap literatur memiliki konsep yang berbeda dalam
pendefisiannya. Timbal balik merupakan simbol dalam politik dan konsep dari
para ilmuwan. Konsep general dalam timbal balik adalah kesetaraan dan
kontingensi. Kontingensi dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketidak tentuan
yang mana timbal balik dilakukan dilihat dari kondisi yang ada. Sedangkan
keseteraan dalam timbal balik dapat diartikan sebagai suatu tindakan timbal
balik yang dilakukan secara setara, setara bukan berarti berwujud sama namun
memiliki maksud sesuai dengan proposisi yang ada. [1]
Jadi
pada intinya timbal balik adalah sebuah pertukaran nilai yang mana kira-kira
setara dimana tindakan tersebut bergantung dengan tindakan terdahulu. Timbal
balik yang dilakukan juga tidak selalu menguntungkan pihak lainnya, yang mana
timbal balik bisa didasarkan pada kepentingan pribadi atau bisa juga hak dan
kewajiban masing-masing. Sehingga dalam porsinya timbal balik tidak selalu
seimbang dengan pihak lain.[2]
Robert
Axelrod mengembangkan sebuah strategi kerjasama yang memiliki pengaruh terhadap
timbal balik, yang mana memfokuskan strategi tersebut terhadap sebuah permainan
dilema tahanan (prissoner dilemma). Permainan
dilema tahanan ini ada dua tahanan yang ditangkap, yang mana tahanan ini akan
diuntungkan apabila mereka bekerjasama (cooperate) dalam kesaksian, namun akan
dirugikan apabila mereka melakukan pembelotan (defect) dalam kesaksian. Dalam
permainan dilema tahanan ini juga menggunakan strategi Tit For Tat, yang mana
Robert Axelrod menggunakan strategi Tit For Tat ini untuk memecahkan permainan
dilema tahanan yang ia simulasikan di komputer. Strategi Tit For Tat adalah
sebuah strategi dimana kita awalnya memilih untuk melakukan kerjasama dengan
pihak lawan dalam sesuatu hal. Langkah selanjutnya untuk melakukan timbal balik
kita diharuskan untuk melihat apa yang awalnya dilakukan oleh pihak lawan
apakah ia melakukan kerjasama atau malah melakukan pembelotan. Strategi Tit for
Tat ini melihat kepada keefektivitas kerjasama yang dilakukan dengan
mempertimbangkan hasil keseluruhan yang nantinya akan dicapai. Pada intinya
strategi Tit For Tat adalah strategi balasan untuk pihak lain yang dilihat dari
tindakan awal.[3]
Selain digunakan untuk penyelesaian permainan dilema tahanan, strategi Tit For
Tat dapat juga digunakan untuk timbal balik dalam membangun kerjasama dengan
jangka waktu yang lama.
Inti
dari strategi Tit For Tat untuk menyelesaikan dilema kerjasama dalam sistem
internasional yang anarki adalah dengan memutuskan kerjasama dengan pihak lain
ditahapan awal. Pada saat tahap selanjutnya kita melihat pihak lain apakah
defect (membelot) atau cooperate (kerjasama). Strategi ini bisa digunakan untuk
melakukan balasan terhadap sistem internasional yang anarki, dikarenakan kita
tidak tahu pasti bagaimana masa depan kerjasama yang dijalani. Oleh karena itu lewat
dari strategi ini negara akan bisa bekerjasama dengan pihak lain diawalnya yang
kemudian kerjasama didasarkan pada balasan lawan di tahap selanjutnya. Sehingga
kerjasama dibawah sistem anarki tidak terlalu sulit untuk dilakukan karena
adanya tahapan.[4]
Studi
Kasus timbal balik yang memiliki revelansi dengan strategi Tit For Tat adalah
Kasus timbal balik sanksi ekonomi Amerika dengan Rusia pada tahun 2014.
Kasus
tersebut bermula pada Rusia yang mencoba untuk menganeksasi atau mengambil
secara paksa wilayah Krimea yang merupakan daerah kedaulatan dari negara
Ukraina. Wilayah Krimea awalnya merupakan bagian dari negara Uni Soviet sampai
pada tahun 1954, namun setelah itu Uni Soviet memberikan secara penuh
kedaulatan wilayah Krimea sebagai bentuk simbol persahabatan kepada Ukraina. Setelah
runtuhnya Uni Soviet, Ukraina pun terlepas dan menjadi negara merdeka yang
menjadikan wilayah Krimea merupakan bagian yang sah dari negara tersebut. Konflik aneksasi dan invasi bermula dari
adanya konflik internal negara Ukraina yang terjadi pada November 2013, yang
mana pada saat itu Presiden Ukraina Viktor membatalkan perjanjian asosiasi Uni
Eropa. Pembatalan perjanjian itu memicu protes masyarakat Ukraina, sehingga
Presiden Ukraina tersebut melarikan diri ke Rusia yang menyebabkan terjadinya
kekosongan pemerintahan dan saat itulah aneksasi Rusia atas Krimea terjadi. [5]
Oleh
karena itu Amerika Serikat marah dan
memberikan sanksi dikarenakan adanya aneksasi dan invasi yang dilakukan oleh
Rusia terhadap wilayah Krimea, dikarenakan posisi Ukraina adalah negara yang
berdaulat. Sanksi yang diberikan oleh Amerika kepada Rusia ada pada kerjasama
dibidang perbankan, industri senjata dan pada sektor energi, yang mana hal itu
dikarenakan Presiden Putin pada saat itu tidak bisa melakukan upaya konkrit
dalam upaya menyelesaikan krisis Krimea di Ukraina.[6]
Namun dalam sisi lain Rusia keberatan karena adanya sanksi yang diberikan oleh
Amerika Serikat. Hal itu membuat Rusia melakukan tindakan balasan atas sanksi
Amerika Serikat yang ditujukan ke negaranya. Tindakan balasan yang dilakukan
oleh Rusia kepada Amerika Serikat yaitu memberikan sanksi ekonomi berupa melakukan
embargo produk impor berupa produk-produk pertanian dan juga bahan mentah dari
Amerika Serikat. Hal itu sangat merugikan disisi Amerika Serikat dikarenakan
Rusia merupakan pasar terbesar dari Amerika Serikat terkait bahan-bahan pangan.[7]
Timbal
balik (reciprocity) yang terpapar di studi kasus dilakukan oleh aktor negara
yakni Amerika dan Rusia, yang mana dalam kasus tersebut bisa dikategorikan
masuk ke dalam strategi Tit For Tat dikarenakan salah satu pihak yaitu Rusia
melakukan tindakan balasan atas pemutusan kerjasama yakni dengan pemberian sanksi
ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Pada awalnya kerjasama yang
dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia berjalan normal yakni pada bidang
perbankan, investasi, dan ekspor impor. Namun dikarenakan adanya salah satu
pihak yang melakukan pembelotan terhadap kerjasama antara keduanya, maka
terjadilah tindakan balasan yang dilakukan oleh pihak lain. Dalam hal ini Rusia
merasa bahwa Amerika tidak sepatutnya memberikan sanksi ekonomi yang sepihak
terhadap Rusia, dikarenakan hal yang dilakukan Rusia terhadap wilayah Krimea
dirasa tidak melanggar hukum Internasional. Mayoritas masyarakat Krimea
melakukan referendum dan hasilnya lebih dari 90% penduduk tersebut memilih
untuk bergabung bersama Rusia. Meski begitu Amerika Serikat tetap menganggap
bahwa Rusia melakukan aneksasi dan invasi ke wilayah Krimea.[8]
Tindakan
balasan yang dilakukan Rusia terhadap Amerika juga sama-sama menggunakan sanksi
ekonomi, namun Rusia lebih menekankan kepada bidang pertanian dan bahan mentah yang
mana hal itu diberikan Rusia kepada Amerika juga sebagai efek jera agar Amerika
Serikat tidak melakukan sanksi ekonomi secara sepihak terhadap Rusia. Dalam hal
ini yang menggunakan strategi Tit For Tat adalah pihak Rusia untuk melakukan
tindak balasan kepada sanksi Amerika Serikat.
Tit
For Tat yang terjadi diantara keduanya dalam kerjasama tidaklah menguntungkan
kedua pihak, dikarenakan tindakan balasan kedua pihak saling melakukan
pembelotan terhadap satu sama lain yang menimbulkan pemutusan kerjasama
sementara waktu sampai jangka waktu pemberian sanksi ekonomi terselesaikan.
Oleh karena itu tindakan balasan atau strategi Tit For Tat tidak menjadikan keduanya
makin cooperate (kerjasama) justru makin defect (membelot).
Referensi
Buku:
Robert O Keohane, 2016, Reciprocity In International
Relations, The Mit Press
Robert
Axelrod and William D.Hamilton, The Evolution of Cooperation, Amerika: Amerika Association
for The Advancement of Science
Sumber Online:
Dewi Mentari Siregar, Efektivitas Sanksi
Ekonomi Uni Eropa Terhadap Rusia dalam Kasus Aneksasi Krimea, diakses dari
https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/viewFile/13439/13003 pada 30 September 2017
Jamila Trinde, U.S Freezes Assets of
Rusian Businessman and Bank Close Putin, diakses dari http://foreignpolicy.com/2014/03/20/u-s-freezes-assets-of-russian-businessmen-and-bank-close-to-putin/
pada 2 Oktober 2017
Kompas, Balas Sanksi, Rusia Embargo
Produk Makanan Eropa dan AS, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2014/08/07/16295061/Balas.Sanksi.Rusia.Embargo.Produk.Makanan.Eropa.dan.AS
pada 2 Oktober 2017
Kompas, 95,5 Persen Pemilih Crimea Mau
Bergabung dengan Rusia, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2014/03/17/0740276/95.5.Persen.Pemilih.Crimea.Mau.Bergabung.dengan.Rusia
pada 2 Oktober 2017
[1]
Robert O Keohane, 2016, Reciprocity In
International Relations, The Mit Press, hlm 8
[2] Ibid,
hlm 9
[3] Ibid,
hlm 10
[4] Robert Axelrod
and William D.Hamilton, The Evolution of Cooperation, Amerika: Amerika
Association for The Advancement of Science, hlm 5
[5] Dewi
Mentari Siregar, Efektivitas Sanksi Ekonomi Uni Eropa Terhadap Rusia dalam
Kasus Aneksasi Krimea, diakses dari https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/viewFile/13439/13003 pada 30 September 2017
[6] Jamila
Trinde, U.S Freezes Assets of Rusian Businessman and Bank Close Putin, diakses
dari http://foreignpolicy.com/2014/03/20/u-s-freezes-assets-of-russian-businessmen-and-bank-close-to-putin/
pada 2 Oktober 2017
[7] Kompas,
Balas Sanksi, Rusia Embargo Produk Makanan Eropa dan AS, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2014/08/07/16295061/Balas.Sanksi.Rusia.Embargo.Produk.Makanan.Eropa.dan.AS
pada 2 Oktober 2017
[8] Kompas,
95,5 Persen Pemilih Crimea Mau Bergabung dengan Rusia, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2014/03/17/0740276/95.5.Persen.Pemilih.Crimea.Mau.Bergabung.dengan.Rusia
pada 2 Oktober 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar