Sabtu, 27 Januari 2018

Sanksi Ekonomi Amerika Serikat dan Rusia pada Tahun 2014 (Konsep Tit For Tat)


Nama   : Lies Aisyah Fardini
NIM    : 155120407111069
Matkul : Politik Kerjasama Internasional

Sanksi Ekonomi Amerika Serikat dan Rusia pada Tahun 2014
Sampai saat ini definisi timbal balik (reciprocity) masih ambigu, dikarenakan setiap literatur memiliki konsep yang berbeda dalam pendefisiannya. Timbal balik merupakan simbol dalam politik dan konsep dari para ilmuwan. Konsep general dalam timbal balik adalah kesetaraan dan kontingensi. Kontingensi dapat diartikan sebagai suatu kondisi ketidak tentuan yang mana timbal balik dilakukan dilihat dari kondisi yang ada. Sedangkan keseteraan dalam timbal balik dapat diartikan sebagai suatu tindakan timbal balik yang dilakukan secara setara, setara bukan berarti berwujud sama namun memiliki maksud sesuai dengan proposisi yang ada. [1]
Jadi pada intinya timbal balik adalah sebuah pertukaran nilai yang mana kira-kira setara dimana tindakan tersebut bergantung dengan tindakan terdahulu. Timbal balik yang dilakukan juga tidak selalu menguntungkan pihak lainnya, yang mana timbal balik bisa didasarkan pada kepentingan pribadi atau bisa juga hak dan kewajiban masing-masing. Sehingga dalam porsinya timbal balik tidak selalu seimbang dengan pihak lain.[2]
Robert Axelrod mengembangkan sebuah strategi kerjasama yang memiliki pengaruh terhadap timbal balik, yang mana memfokuskan strategi tersebut terhadap sebuah permainan dilema tahanan (prissoner dilemma). Permainan dilema tahanan ini ada dua tahanan yang ditangkap, yang mana tahanan ini akan diuntungkan apabila mereka bekerjasama (cooperate) dalam kesaksian, namun akan dirugikan apabila mereka melakukan pembelotan (defect) dalam kesaksian. Dalam permainan dilema tahanan ini juga menggunakan strategi Tit For Tat, yang mana Robert Axelrod menggunakan strategi Tit For Tat ini untuk memecahkan permainan dilema tahanan yang ia simulasikan di komputer. Strategi Tit For Tat adalah sebuah strategi dimana kita awalnya memilih untuk melakukan kerjasama dengan pihak lawan dalam sesuatu hal. Langkah selanjutnya untuk melakukan timbal balik kita diharuskan untuk melihat apa yang awalnya dilakukan oleh pihak lawan apakah ia melakukan kerjasama atau malah melakukan pembelotan. Strategi Tit for Tat ini melihat kepada keefektivitas kerjasama yang dilakukan dengan mempertimbangkan hasil keseluruhan yang nantinya akan dicapai. Pada intinya strategi Tit For Tat adalah strategi balasan untuk pihak lain yang dilihat dari tindakan awal.[3] Selain digunakan untuk penyelesaian permainan dilema tahanan, strategi Tit For Tat dapat juga digunakan untuk timbal balik dalam membangun kerjasama dengan jangka waktu yang lama.
Inti dari strategi Tit For Tat untuk menyelesaikan dilema kerjasama dalam sistem internasional yang anarki adalah dengan memutuskan kerjasama dengan pihak lain ditahapan awal. Pada saat tahap selanjutnya kita melihat pihak lain apakah defect (membelot) atau cooperate (kerjasama). Strategi ini bisa digunakan untuk melakukan balasan terhadap sistem internasional yang anarki, dikarenakan kita tidak tahu pasti bagaimana masa depan kerjasama yang dijalani. Oleh karena itu lewat dari strategi ini negara akan bisa bekerjasama dengan pihak lain diawalnya yang kemudian kerjasama didasarkan pada balasan lawan di tahap selanjutnya. Sehingga kerjasama dibawah sistem anarki tidak terlalu sulit untuk dilakukan karena adanya tahapan.[4]
Studi Kasus timbal balik yang memiliki revelansi dengan strategi Tit For Tat adalah Kasus timbal balik sanksi ekonomi Amerika dengan Rusia pada tahun 2014.
Kasus tersebut bermula pada Rusia yang mencoba untuk menganeksasi atau mengambil secara paksa wilayah Krimea yang merupakan daerah kedaulatan dari negara Ukraina. Wilayah Krimea awalnya merupakan bagian dari negara Uni Soviet sampai pada tahun 1954, namun setelah itu Uni Soviet memberikan secara penuh kedaulatan wilayah Krimea sebagai bentuk simbol persahabatan kepada Ukraina. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Ukraina pun terlepas dan menjadi negara merdeka yang menjadikan wilayah Krimea merupakan bagian yang sah dari negara tersebut.  Konflik aneksasi dan invasi bermula dari adanya konflik internal negara Ukraina yang terjadi pada November 2013, yang mana pada saat itu Presiden Ukraina Viktor membatalkan perjanjian asosiasi Uni Eropa. Pembatalan perjanjian itu memicu protes masyarakat Ukraina, sehingga Presiden Ukraina tersebut melarikan diri ke Rusia yang menyebabkan terjadinya kekosongan pemerintahan dan saat itulah aneksasi Rusia atas Krimea terjadi. [5]
Oleh karena itu Amerika Serikat marah  dan memberikan sanksi dikarenakan adanya aneksasi dan invasi yang dilakukan oleh Rusia terhadap wilayah Krimea, dikarenakan posisi Ukraina adalah negara yang berdaulat. Sanksi yang diberikan oleh Amerika kepada Rusia ada pada kerjasama dibidang perbankan, industri senjata dan pada sektor energi, yang mana hal itu dikarenakan Presiden Putin pada saat itu tidak bisa melakukan upaya konkrit dalam upaya menyelesaikan krisis Krimea di Ukraina.[6] Namun dalam sisi lain Rusia keberatan karena adanya sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat. Hal itu membuat Rusia melakukan tindakan balasan atas sanksi Amerika Serikat yang ditujukan ke negaranya. Tindakan balasan yang dilakukan oleh Rusia kepada Amerika Serikat yaitu memberikan sanksi ekonomi berupa melakukan embargo produk impor berupa produk-produk pertanian dan juga bahan mentah dari Amerika Serikat. Hal itu sangat merugikan disisi Amerika Serikat dikarenakan Rusia merupakan pasar terbesar dari Amerika Serikat terkait bahan-bahan pangan.[7]
Timbal balik (reciprocity) yang terpapar di studi kasus dilakukan oleh aktor negara yakni Amerika dan Rusia, yang mana dalam kasus tersebut bisa dikategorikan masuk ke dalam strategi Tit For Tat dikarenakan salah satu pihak yaitu Rusia melakukan tindakan balasan atas pemutusan kerjasama yakni dengan pemberian sanksi ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Pada awalnya kerjasama yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Rusia berjalan normal yakni pada bidang perbankan, investasi, dan ekspor impor. Namun dikarenakan adanya salah satu pihak yang melakukan pembelotan terhadap kerjasama antara keduanya, maka terjadilah tindakan balasan yang dilakukan oleh pihak lain. Dalam hal ini Rusia merasa bahwa Amerika tidak sepatutnya memberikan sanksi ekonomi yang sepihak terhadap Rusia, dikarenakan hal yang dilakukan Rusia terhadap wilayah Krimea dirasa tidak melanggar hukum Internasional. Mayoritas masyarakat Krimea melakukan referendum dan hasilnya lebih dari 90% penduduk tersebut memilih untuk bergabung bersama Rusia. Meski begitu Amerika Serikat tetap menganggap bahwa Rusia melakukan aneksasi dan invasi ke wilayah Krimea.[8]
Tindakan balasan yang dilakukan Rusia terhadap Amerika juga sama-sama menggunakan sanksi ekonomi, namun Rusia lebih menekankan kepada bidang pertanian dan bahan mentah yang mana hal itu diberikan Rusia kepada Amerika juga sebagai efek jera agar Amerika Serikat tidak melakukan sanksi ekonomi secara sepihak terhadap Rusia. Dalam hal ini yang menggunakan strategi Tit For Tat adalah pihak Rusia untuk melakukan tindak balasan kepada sanksi Amerika Serikat.
Tit For Tat yang terjadi diantara keduanya dalam kerjasama tidaklah menguntungkan kedua pihak, dikarenakan tindakan balasan kedua pihak saling melakukan pembelotan terhadap satu sama lain yang menimbulkan pemutusan kerjasama sementara waktu sampai jangka waktu pemberian sanksi ekonomi terselesaikan. Oleh karena itu tindakan balasan atau strategi Tit For Tat tidak menjadikan keduanya makin cooperate (kerjasama) justru makin defect (membelot).






Referensi
Buku:
Robert  O Keohane, 2016, Reciprocity In International Relations, The Mit Press
Robert Axelrod and William D.Hamilton, The Evolution of Cooperation, Amerika: Amerika Association for The Advancement of Science
Sumber Online:
Dewi Mentari Siregar, Efektivitas Sanksi Ekonomi Uni Eropa Terhadap Rusia dalam Kasus Aneksasi Krimea, diakses dari https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/viewFile/13439/13003  pada 30 September 2017
Jamila Trinde, U.S Freezes Assets of Rusian Businessman and Bank Close Putin, diakses dari http://foreignpolicy.com/2014/03/20/u-s-freezes-assets-of-russian-businessmen-and-bank-close-to-putin/ pada 2 Oktober 2017





[1] Robert  O Keohane, 2016, Reciprocity In International Relations, The Mit Press, hlm 8
[2] Ibid, hlm 9
[3] Ibid, hlm 10
[4] Robert Axelrod and William D.Hamilton, The Evolution of Cooperation, Amerika: Amerika Association for The Advancement of Science, hlm 5
[5] Dewi Mentari Siregar, Efektivitas Sanksi Ekonomi Uni Eropa Terhadap Rusia dalam Kasus Aneksasi Krimea, diakses dari https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/viewFile/13439/13003  pada 30 September 2017
[6] Jamila Trinde, U.S Freezes Assets of Rusian Businessman and Bank Close Putin, diakses dari http://foreignpolicy.com/2014/03/20/u-s-freezes-assets-of-russian-businessmen-and-bank-close-to-putin/ pada 2 Oktober 2017
[7] Kompas, Balas Sanksi, Rusia Embargo Produk Makanan Eropa dan AS, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2014/08/07/16295061/Balas.Sanksi.Rusia.Embargo.Produk.Makanan.Eropa.dan.AS pada 2 Oktober 2017
[8] Kompas, 95,5 Persen Pemilih Crimea Mau Bergabung dengan Rusia, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2014/03/17/0740276/95.5.Persen.Pemilih.Crimea.Mau.Bergabung.dengan.Rusia pada 2 Oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGUGURAN DAN BLIGHTED OVUM (cerita pribadi)

     Hai, hari ini aku akan sedikit cerita tentang pengalaman hidup aku yang cukup dramatis dan ada sedihnya hehe. Jadi aku menikah pada 28 ...