Kamis, 25 Januari 2018

PKM GAGASAN TERTULIS (PKM-GT)





USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
BIBLIOPOP POP-UP LIBRARY MALANG
BIDANG KEGIATAN:
PKM-GAGASAN TERTULIS

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA

DAFTAR ISI









RINGKASAN


Sampai saat ini, minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah. Hal itu dapat dilihat dari data studi Most Littered Nation in the World yang dirilis oleh Central Connecticut State University yang menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang masuk dalam list tersebut. Dalam data tersebut, urutan minat baca masyarakat Indonesia berada dibawah Thailand dan diatas Bostwana.[1] Rendahnya minat baca di Indonesia menyebar ke seluruh wilayah Indonesia mulai dari lingkup kabupaten, kota, hingga ke tingkat provinsi.
Kota Malang sebagai bagian dari wilayah Indonesia juga memiliki permasalahan yang sama yakni, rendahnya minat baca masyarakat Kota Malang. Hal tersebut dibuktikan dengan minimnya akses umum mengenai buku seperti perpustakaan. Di Malang sendiri hanya ada satu perpustakaan besar yang menyediakan buku dan itupun koleksi dari buku tersebut tidak seimbang dengan jumlah masyarakat di Kota Malang,[2] sehingga terjadi ketimpangan antara jumlah buku dan jumlah masyarakat. Selain itu, di dalam fasilitas publik milik pemerintah seperti taman-taman kota juga masih minim lokasi untuk mengakses buku. Oleh karena itu perlu adanya perpustakaan pop-up atau perpustakaan yang berpindah-pindah dari satu taman publik ke taman lainnya di Kota Malang sebagai upaya meningkatkan kembali minat baca di Kota Malang.
Langkah-langkah yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yakni meningkatkan minat baca antara lain yaitu dengan membuka perpustakaan yang bernama Bibliopop Pop-up Library di taman-taman Kota Malang. Selain itu proyek ini juga membuka open donasi buku dan juga sukarelawan atau volunteer untuk dapat melancarkan rangkai kegiatan yang disusun. Selain itu proyek gerakan ini juga dipublikasikan ke media sosial agar masyarakat dapat berkontribusi dan menjadi bagian dari kegiatan gerakan ini.

PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang

Perpustakaan dalam bahasa Indonesia istilah perpustakaan diambil dari bahasa sansekerta yaitu pustaka yang memiliki pengertian sebagai kitab atau buku. Perpustakaan dapat dikatakan sebagai kumpulan buku, manuskripsi dan bahan pustaka lainnya yang diperlukan untuk keperluan studi atau bacaan. Selain itu perpustakaan bisa juga dikatakan sebagai tempat umum yang dapat dikunjungi oleh semua orang tanpa terkecuali. Fungsi perpustakaan juga digunakan sebagai sarana penting yang memiliki pengaruh untuk mewujudkan salah satu tujuan bangsa Indonesia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu perpustakaan seharusnya ada dibanyak tempat untuk dapat meningkat minat baca dan juga membantu adanya proses pembelajaran setiap manusia.[3]
Kota Malang memiliki permasalahan mengenai rendahnya minat baca yang disebabkan minimnya akses umum mengenai buku seperti perpustakaan. Di Malang sendiri hanya ada satu perpustakaan besar yang menyediakan buku dan itupun koleksi dari buku tersebut tidak seimbang dengan jumlah masyarakat di Kota Malang.[4] Sehingga terjadi adanya ketimpangan antara jumlah buku dan jumlah masyarakat. Selain itu didalam fasilitas publik milik pemerintah seperti taman-taman kota juga masih minim lokasi untuk mengakses buku, yang mana dapat dikatakan bahwa perpustakaan kecil tidak dibangun ditaman sehingga fasilitas publik seperti taman hanya digunakan untuk bermain. Hanya ada satu taman yang memiliki fasilitas ruang baca di Kota Malang yaitu taman Trunojoyo Kota Malang, fasilitas ruang baca tersebut dibangun oleh pemerintah dengan bantuan CSR (Corporate Social Responsibility). Selain dari taman tersebut, kota Malang tidak memiliki fasilitas baca di taman-taman lainnya.
Dalam hal ini gerakan Bibliopop Library Malang dibentuk perpustakan pop-up agar masyarakat dapat mengakses buku dengan tidak harus pergi ke perpustakaan Kota Malang. Gerakan ini nantinya akan menyediakan buku untuk berbagai kalangan usia dari anak-anak sampai untuk semua umur yang dapat diakses dengan mudah sesuai dengan Bibliopop Library ini datang ke tempat publik seperti taman-taman ataupun Car Free Day (CFD). Gerakan ini juga memanfaatkan berbagai taman publik yang cukup banyak seperti di Taman Alun-Alun Kota Malang, Taman Tugu, Taman Merjosari, Taman Trunojoyo, Taman Slamet, Taman Kunang-Kunang dan masih banyak lainnya. Adanya gerakan Bibliopop Library dapat membuat fasilitas publik memiliki sisi positif tidak hanya digunakan untuk berlibur, bersantai dan area bermain saja, namun juga bisa digunakan sebagai ajang edukasi yang nantinya akan membuat masyarakat umum dapat membaca dan secara bertahap mencintai buku dan menerapkan gemar membaca. Dalam gerakan ini yang menjadi target sasaran adalah semua kalangan masyarakat dari berbagai usia dan tidak memiliki batasan umur.

B.  Tujuan dan Manfaat

Dari masalah-masalah yang telah diuraikan, maka dapat diketahui tujuan dari gagasan ini, yaitu:
1.      Membentuk adanya perpustakaan pop up atau bisa dikatakan sebagai perpustakaan nomaden yang diselenggarakan tidak hanya menetap pada satu tempat saja melainkan berpindah dari taman publik di Kota Malang ke taman publik yang lainnya.
2.      Mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan partisipasi dalam gerakan perpustakaan pop up yang diberi nama Bibliopop Library Malang dengan cara menjadi volunteer dalam kegiatan gerakan atau hanya sebagai pendonor buku-buku untuk perpustakaan ini.



GAGASAN

a.    Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan

Kondisi era globalisasi saat ini memudahkan masyarakat untuk dapat melakukan aktivitas dengan mudah dengan adanya kemudahan mengakses koneksi untuk menghubungkan satu pihak dengan yang lainnya. Dalam hal ini globalisasi memiliki pengaruh yang menjadikan dunia ini tanpa adanya hambatan dan batas-batas. Wujud nyata dari adanya globalisasi adalah dengan adanya kemajuan perkembangan dan kemajuan teknologi yang sangat pesat baik dibidang informasi, komunikasi dan transportasi.[5]
Kemudahan akses informasi dengan adanya teknologi Smartphone membuat masyarakat saat ini lebih beralih untuk menghabiskan seluruh tenaga dan pikirannya setiap hari untuk bermain dan membuka gadget. Kebiasaan membaca yang semula menjadi rutinitas kini terganti dengan teknologi. Masyarakat Kota Malang yang saat ini memiliki kualitas membaca yang rendah, didukung pula dengan jauhnya jangkauan terhadap perpustakaan. Untuk itu kelompok kami menginisiasikan sebuah ide mengenai adanya perpustakaan pop up di taman-taman Kota Malang agar masyarakat lebih terjangkau dalam mengakses buku. Seluruh masyarakat yang datang ke taman tidak hanya melihat keindahan taman saja, melainkan juga dapat mengakses pengetahuan secara bersamaan. Selain itu juga dengan dibukanya perpustakaan pop up ini membuat anak usia dini khususnya dapat menumbuhkan minat baca sedari kecil. Keluarga juga bisa mengenalkan anaknya ketika berkunjung di taman untuk lebih menyukai buku dan juga gemar untuk membaca.  
Selain itu juga kondisi globalisasi juga membuat kelompok kami membuat adanya gerakan sosial untuk meningkatkan minat baca dengan membuka sukarelawan dan juga mempublikasikan kegiatan gerakan menggunakan media sosial internet. Sehingga gerakan ini dapat mencapai jangkauan yang luas dan menarik banyak partisipan sukarelawan dan juga penyumbang buku untuk perpustakaan.

b.        Solusi yang Pernah Ditawarkan atau Diterapkan Sebelumnya Untuk  Memperbaiki Keadaan

Berdasarkan hasil observasi tentang permasalahan rendahnya minat baca masyarakat di Kota Malang, kami menemukan fakta bahwa terdapat beberapa pihak yang telah berupaya untuk menawarkan solusi terkait permasalahan tersebut. Pihak Pemerintah Kota Malang sebagai pihak yang berwenang telah menyediakan fasilitas publik yakni Perpustakaan Daerah yang terletak di Jalan Besar Ijen. Dengan adanya Perpustakaan Daerah tersebut, masyarakat Kota Malang bisa mengakses berbagai buku yang dibutuhkan dengan lebih mudah. Tidak hanya Perpustakaan Daerah, berbagai lembaga pendidikan baik tingkat sekolah maupun tingkat perguruan tinggi juga menyediakan perpustakaan, hanya saja aksesnya tidak sebebas akses ke Perpustakaan Daerah.
Di sisi lain, kami juga menemukan fakta bahwa terdapat kafe-kafe yang mengusung konsep books and comic café, dimana kafe tersebut menyediakan berbagai jenis bacaan yang bisa diakses oleh para pengunjung kafe. Hanya saja, lagi-lagi aksesnya terbatas dan buku yang ditawarkan pun minim, sehingga solusi ini masih belum bisa mengkover permasalahan yang terjadi terkait rendahnya minat baca.
Di kota Malang sendiri telah sering diadakan bazar dan pameran buku. Setiap tahun ada sekitar 6 kali bazar atau pameran buku sepanjang tahun secara rutin. Selain itu, toko buku di Malang juga sering mengadakan penjualan buku diskon. Namun kegiatan-kegiatan tersebut masih kurang efektif untuk meningkatkan minat baca masyarakat dikarenakan sifat kegiatan yang memerlukan kehadiran masyarakat untuk datang ke lokasi dan membeli buku. Bagi masyarakat yang tidak memiliki waktu luang dan dana untuk itu, ditambah dengan minat baca yang awalnya memang rendah, tentu saja tidak akan memilih untuk datang ke kegiatan tersebut.

c.         Seberapa Jauh Kondisi Kekinian Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan yang Diajukan

Pop-up library yang kami ajukan merupakan gerakan yang bersifat mengunjungi daripada memerlukan audiens (menjemput bola) untuk mendatangi kegiatan kami, dengan konsep gerakan dimana kami mendatangi suatu ruang publik (seperti alun-alun dan taman kota) dan membuka perpustakaan kecil-kecilan di ruang publik tersebut pada jangka waktu tertentu. Konsep tersebut diharapkan akan menarik minat dari audiens yang berada di tempat itu untuk membaca, dikarenakan audiens tidak perlu repot-repot mencari waktu luang dan pergi ke tempat seperti perpustakaan atau toko buku, namun bisa segera membaca buku di tempat mereka berada. Selain itu konsep ‘perpustakaan’ juga membuat audiens tidak perlu merogoh kantong untuk membaca buku yang belum/tidak mereka punya. Cukup dengan meminjam buku dari kami, mereka sudah bisa membaca di tempat secara gratis.

d.        Pihak-Pihak yang Dipertimbangkan Dapat Membantu

Gerakan ini akan dapat terwujud apabila terdapat dukungan dari para donatur melalui donasi buku-buku yang tidak terpakai. Selain itu, dukungan dari pemerintah kota Malang dalam bentuk pemberian izin mengadakan kegiatan di tempat umum juga penting untuk memperlancar kegiatan kami. Kolaborasi dari perpustakaan, baik perpustakaan sekolah, universitas, maupun kota diharapkan mampu meningkatkan daya jangkau dari gerakan kami.

e.         Langkah-Langkah Strategis Untuk Mengimplementasi Gagasan

Dalam mengimplementasikan gerakan kami, diperlukan langkah-langkah strategis yaitu penentuan tempat dan waktu yang tepat agar mendapatkan target audiens yang banyak (contoh: hari minggu sore, dimana banyak orang berkumpul di Alun-Alun Kota Malang untuk rekreasi). Selain itu, pemilihan buku yang sesuai dengan demografi dan selera target audiens juga penting agar audiens lebih tertarik untuk membaca.

KESIMPULAN

Dalam menanggulangi rendahnya minat baca masyarakat Kota Malang, berbagai pihak baik itu pemerintah dan non-pemerintah telah berupaya melakukan berbagai hal, mulai dari pembukaan perpustakaan umum hingga pengadaan bazaar. Namun, upaya tersebut masih belum mampu meretas permasalahan rendahnya minat baca Kota Malang. Mengingat hal tersebut, tim kami berusaha menawarkan solusi yakni dengan mendirikan pop up library bertajuk Bibliopop Library. Perpustakaan yang berkonsep menjemput bola ini diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan minat baca masyarakat Kota Malang mengingat keberadaan Bibliopop Library juga mempermudah akses masyarakat terhadap buku.

DAFTAR PUSTAKA


Sumber Buku
Rahman, Hasanudi. 2004. Manajemen Fit and Proper Test, Yogyakarta: Pustaka Widyatama
Suyatno. 2012. Buletin Perpustakaan Bung Karno Tahun IV Volume ke 2. Jawa Timur

Sumber Online
Lucky Aditya, Minat Baca di Kota Malang Rendah, diakses dari http://beritajatim.com/pendidikan_kesehatan/274082/minat_baca_di_kota_malang_masih_rendah.html pada 8 Desember 2017

Arif Gunawan, Indoensia Second Least Literate of 61 Nations, diakses dari http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html pada 8 Desember 2017


2.      Lampiran Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas
No
Nama
NIM
Alokasi Waktu (Jam/Minggu/waktu)
Uraian Tugas
1
Lies Aisyah Fardini
155120407111069
15 Jam
Ketua Peneliti
2
Abudzar Alghifarr
15512040111024
15 Jam
Anggota Peneliti
3
Winda Fabiola M.S
145120401111061
15 Jam
Anggota Peneliti

No
Nama
Deskripsi Tugas
Job Desk
1.       
Lies Aisyah Fardini
1.      Pengembangan portofolio mahasiswa dan mengevaluasinya kembali
2.      Melakukan perbandingan antara portofolio baru dengan portofolio mahasiswa yang lama
3.      Membuat langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan upaya yang akan dilakukan
4.      Observasi Lapangan
Ketua Peneliti
2.
Abudzar Al Ghifari
1.      Membuat Design
2.      Observasi Lapangan
3.      Sosialisasi aplikasi program
Anggota Peneliti
3.
Winda Fabiola
1.      Studi literatur solusi yang pernah ditawarkan
2.      Analisa data
3.      Evaluasi
Anggota Peneliti





DOKUMENTASI

Laman resmi Bibliopop Library: http:// http://bibliopopuplibrary.sitey.me/

Laman Instagram Bibliopop Library: @bibliopop_mlg
Page account Bibliopop Library Malang bisa diakses di https://m.facebook.com/BibliopoplibraryMalang/
Bibliopop Library





[1] Arif Gunawan, Indoensia Second Least Literate of 61 Nations, diakses dari http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html pada 8 Desember 2017
[2] Lucky Aditya, Minat Baca di Kota Malang Rendah, diakses dari http://beritajatim.com/pendidikan_kesehatan/274082/minat_baca_di_kota_malang_masih_rendah.html pada 8 Desember 2017
[3] Suyatno, 2012, Buletin Perpustakaan Bung Karno Tahun IV Volume ke 2, Jawa Timur
[4] Lucky Aditya, Loc.cit
[5] Hasanudi Rahman, 2004, Manajemen Fit and Proper Test, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, hlm 112

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGUGURAN DAN BLIGHTED OVUM (cerita pribadi)

     Hai, hari ini aku akan sedikit cerita tentang pengalaman hidup aku yang cukup dramatis dan ada sedihnya hehe. Jadi aku menikah pada 28 ...