USULAN
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
BIBLIOPOP POP-UP LIBRARY MALANG
BIDANG KEGIATAN:
PKM-GAGASAN TERTULIS
PROGRAM STUDI HUBUNGAN
INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
DAFTAR ISI
RINGKASAN
Sampai saat ini, minat baca
masyarakat Indonesia tergolong rendah. Hal itu dapat dilihat
dari data studi Most Littered Nation in
the World yang dirilis oleh Central Connecticut State University yang
menyatakan bahwa Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang masuk
dalam list tersebut. Dalam data tersebut, urutan minat baca masyarakat
Indonesia berada dibawah Thailand
dan diatas Bostwana.[1]
Rendahnya minat baca di Indonesia menyebar ke seluruh wilayah Indonesia mulai
dari lingkup kabupaten, kota, hingga ke tingkat provinsi.
Kota
Malang sebagai bagian dari wilayah Indonesia juga memiliki permasalahan yang
sama yakni,
rendahnya minat baca masyarakat Kota Malang. Hal tersebut dibuktikan dengan
minimnya akses umum mengenai buku seperti perpustakaan. Di Malang sendiri hanya
ada satu perpustakaan besar yang menyediakan buku dan itupun koleksi dari buku
tersebut tidak seimbang dengan jumlah masyarakat di Kota Malang,[2]
sehingga terjadi ketimpangan antara jumlah buku dan jumlah masyarakat. Selain
itu,
di dalam fasilitas publik milik
pemerintah seperti taman-taman kota juga masih minim lokasi untuk mengakses
buku. Oleh karena itu perlu adanya perpustakaan pop-up atau perpustakaan yang berpindah-pindah dari satu taman
publik ke taman lainnya di Kota Malang sebagai upaya meningkatkan kembali minat
baca di Kota Malang.
Langkah-langkah
yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yakni meningkatkan minat baca antara
lain yaitu dengan membuka perpustakaan yang bernama Bibliopop Pop-up Library di taman-taman Kota Malang. Selain
itu proyek ini juga membuka open donasi buku dan juga sukarelawan atau volunteer untuk dapat melancarkan
rangkai kegiatan yang disusun. Selain itu proyek gerakan ini juga
dipublikasikan ke media sosial agar masyarakat dapat berkontribusi dan menjadi
bagian dari kegiatan gerakan ini.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perpustakaan
dalam bahasa Indonesia istilah perpustakaan diambil dari bahasa sansekerta
yaitu pustaka yang memiliki pengertian sebagai kitab atau buku. Perpustakaan
dapat dikatakan sebagai kumpulan buku,
manuskripsi
dan bahan pustaka lainnya yang diperlukan untuk keperluan studi atau bacaan.
Selain itu perpustakaan bisa juga dikatakan sebagai tempat umum yang dapat
dikunjungi oleh semua orang tanpa terkecuali. Fungsi perpustakaan juga
digunakan sebagai sarana penting yang memiliki pengaruh untuk mewujudkan salah
satu tujuan bangsa Indonesia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena
itu perpustakaan seharusnya ada dibanyak tempat untuk dapat meningkat minat
baca dan juga membantu adanya proses pembelajaran setiap manusia.[3]
Kota
Malang memiliki permasalahan mengenai rendahnya minat baca yang disebabkan minimnya
akses umum mengenai buku seperti perpustakaan. Di Malang sendiri hanya ada satu
perpustakaan besar yang menyediakan buku dan itupun koleksi dari buku tersebut
tidak seimbang dengan jumlah masyarakat di Kota Malang.[4]
Sehingga terjadi adanya ketimpangan antara jumlah buku dan jumlah masyarakat.
Selain itu didalam fasilitas publik milik pemerintah seperti taman-taman kota
juga masih minim lokasi untuk mengakses buku, yang mana dapat dikatakan bahwa
perpustakaan kecil tidak dibangun ditaman sehingga fasilitas publik seperti
taman hanya digunakan untuk bermain. Hanya ada satu taman yang memiliki
fasilitas ruang baca di Kota Malang yaitu taman Trunojoyo Kota Malang,
fasilitas ruang baca tersebut dibangun oleh pemerintah dengan bantuan CSR (Corporate Social Responsibility). Selain
dari taman tersebut, kota Malang tidak memiliki fasilitas baca di taman-taman
lainnya.
Dalam
hal ini gerakan Bibliopop Library
Malang dibentuk perpustakan pop-up agar masyarakat dapat mengakses buku
dengan tidak harus pergi ke perpustakaan Kota Malang. Gerakan ini nantinya akan
menyediakan buku untuk berbagai kalangan usia dari anak-anak sampai untuk semua
umur yang dapat diakses dengan mudah sesuai dengan Bibliopop Library ini datang ke tempat publik
seperti taman-taman ataupun Car Free Day
(CFD). Gerakan ini juga memanfaatkan berbagai taman publik yang cukup banyak
seperti di Taman Alun-Alun Kota Malang, Taman Tugu, Taman Merjosari, Taman
Trunojoyo, Taman Slamet, Taman Kunang-Kunang dan masih banyak lainnya. Adanya
gerakan Bibliopop Library dapat
membuat fasilitas publik memiliki sisi positif tidak hanya digunakan untuk
berlibur, bersantai dan area bermain saja, namun juga bisa digunakan sebagai
ajang edukasi yang nantinya akan membuat masyarakat umum dapat membaca dan
secara bertahap mencintai buku dan menerapkan gemar membaca. Dalam gerakan ini
yang menjadi target sasaran adalah semua kalangan masyarakat dari berbagai usia
dan tidak memiliki batasan umur.
B. Tujuan dan Manfaat
Dari
masalah-masalah yang telah diuraikan, maka dapat diketahui tujuan dari gagasan
ini, yaitu:
1. Membentuk
adanya perpustakaan pop up atau bisa
dikatakan sebagai perpustakaan nomaden yang diselenggarakan tidak hanya menetap
pada satu tempat saja melainkan berpindah dari taman publik di Kota Malang ke
taman publik yang lainnya.
2. Mengajak
seluruh masyarakat untuk melakukan partisipasi dalam gerakan perpustakaan pop up yang diberi nama Bibliopop
Library Malang dengan cara menjadi volunteer
dalam kegiatan gerakan atau hanya sebagai pendonor buku-buku untuk perpustakaan
ini.
GAGASAN
a.
Kondisi Kekinian
Pencetus Gagasan
Kondisi era globalisasi saat ini
memudahkan masyarakat untuk dapat melakukan aktivitas dengan mudah dengan
adanya kemudahan mengakses koneksi untuk menghubungkan satu pihak dengan yang
lainnya. Dalam hal ini globalisasi memiliki pengaruh yang menjadikan dunia ini
tanpa adanya hambatan dan batas-batas. Wujud nyata dari adanya globalisasi
adalah dengan adanya kemajuan perkembangan dan kemajuan teknologi yang sangat
pesat baik dibidang informasi, komunikasi dan transportasi.[5]
Kemudahan akses informasi dengan adanya
teknologi Smartphone membuat masyarakat saat ini lebih beralih untuk menghabiskan
seluruh tenaga dan pikirannya setiap hari untuk bermain dan membuka gadget.
Kebiasaan membaca yang semula menjadi rutinitas kini terganti dengan teknologi.
Masyarakat Kota Malang yang saat ini memiliki kualitas membaca yang rendah, didukung
pula dengan jauhnya jangkauan terhadap perpustakaan. Untuk itu kelompok kami
menginisiasikan sebuah ide mengenai adanya perpustakaan pop up di taman-taman
Kota Malang agar masyarakat lebih terjangkau dalam mengakses buku. Seluruh
masyarakat yang datang ke taman tidak hanya melihat keindahan taman saja,
melainkan juga dapat mengakses pengetahuan secara bersamaan. Selain itu juga
dengan dibukanya perpustakaan pop up ini membuat anak usia dini khususnya dapat
menumbuhkan minat baca sedari kecil. Keluarga juga bisa mengenalkan anaknya
ketika berkunjung di taman untuk lebih menyukai buku dan juga gemar untuk
membaca.
Selain itu juga kondisi globalisasi juga
membuat kelompok kami membuat adanya gerakan sosial untuk meningkatkan minat
baca dengan membuka sukarelawan dan juga mempublikasikan kegiatan gerakan
menggunakan media sosial internet. Sehingga gerakan ini dapat mencapai
jangkauan yang luas dan menarik banyak partisipan sukarelawan dan juga
penyumbang buku untuk perpustakaan.
b.
Solusi yang Pernah
Ditawarkan atau Diterapkan Sebelumnya Untuk
Memperbaiki Keadaan
Berdasarkan
hasil observasi tentang permasalahan rendahnya minat baca masyarakat di Kota
Malang, kami menemukan fakta bahwa terdapat beberapa pihak yang telah berupaya
untuk menawarkan solusi terkait permasalahan tersebut. Pihak Pemerintah Kota
Malang sebagai pihak yang berwenang telah menyediakan fasilitas publik yakni
Perpustakaan Daerah yang terletak di Jalan Besar Ijen. Dengan adanya
Perpustakaan Daerah tersebut, masyarakat Kota Malang bisa mengakses berbagai
buku yang dibutuhkan dengan lebih mudah. Tidak hanya Perpustakaan Daerah,
berbagai lembaga pendidikan baik tingkat sekolah maupun tingkat perguruan
tinggi juga menyediakan perpustakaan, hanya saja aksesnya tidak sebebas akses
ke Perpustakaan Daerah.
Di sisi
lain, kami juga menemukan fakta bahwa terdapat kafe-kafe yang mengusung konsep books and comic café, dimana kafe
tersebut menyediakan berbagai jenis bacaan yang bisa diakses oleh para
pengunjung kafe. Hanya saja, lagi-lagi aksesnya terbatas dan buku yang
ditawarkan pun minim, sehingga solusi ini masih belum bisa mengkover
permasalahan yang terjadi terkait rendahnya minat baca.
Di
kota Malang sendiri telah sering diadakan bazar dan pameran buku. Setiap tahun
ada sekitar 6 kali bazar atau pameran buku sepanjang tahun secara rutin. Selain
itu, toko buku di Malang juga sering mengadakan penjualan buku diskon. Namun
kegiatan-kegiatan tersebut masih kurang efektif untuk meningkatkan minat baca
masyarakat dikarenakan sifat kegiatan yang memerlukan kehadiran masyarakat
untuk datang ke lokasi dan membeli buku. Bagi masyarakat yang tidak memiliki
waktu luang dan dana untuk itu, ditambah dengan minat baca yang awalnya memang
rendah, tentu saja tidak akan memilih untuk datang ke kegiatan tersebut.
c.
Seberapa Jauh Kondisi
Kekinian Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan yang Diajukan
Pop-up
library yang kami ajukan merupakan gerakan yang bersifat
mengunjungi daripada memerlukan audiens (menjemput bola) untuk mendatangi
kegiatan kami, dengan konsep gerakan dimana kami mendatangi suatu ruang publik
(seperti alun-alun dan taman kota) dan membuka perpustakaan kecil-kecilan di
ruang publik tersebut pada jangka waktu tertentu. Konsep tersebut diharapkan
akan menarik minat dari audiens yang berada di tempat itu untuk membaca,
dikarenakan audiens tidak perlu repot-repot mencari waktu luang dan pergi ke
tempat seperti perpustakaan atau toko buku, namun bisa segera membaca buku di
tempat mereka berada. Selain itu konsep ‘perpustakaan’ juga membuat audiens
tidak perlu merogoh kantong untuk membaca buku yang belum/tidak mereka punya.
Cukup dengan meminjam buku dari kami, mereka sudah bisa membaca di tempat
secara gratis.
d.
Pihak-Pihak yang
Dipertimbangkan Dapat Membantu
Gerakan ini akan dapat terwujud apabila
terdapat dukungan dari para donatur melalui donasi buku-buku yang tidak
terpakai. Selain itu, dukungan dari pemerintah kota Malang dalam bentuk
pemberian izin mengadakan kegiatan di tempat umum juga penting untuk
memperlancar kegiatan kami. Kolaborasi dari perpustakaan, baik perpustakaan
sekolah, universitas, maupun kota diharapkan mampu meningkatkan daya jangkau
dari gerakan kami.
e.
Langkah-Langkah
Strategis Untuk Mengimplementasi Gagasan
Dalam mengimplementasikan gerakan kami,
diperlukan langkah-langkah strategis yaitu penentuan tempat dan waktu yang
tepat agar mendapatkan target audiens yang banyak (contoh: hari minggu sore,
dimana banyak orang berkumpul di Alun-Alun Kota Malang untuk rekreasi). Selain
itu, pemilihan buku yang sesuai dengan demografi dan selera target audiens juga
penting agar audiens lebih tertarik untuk membaca.
KESIMPULAN
Dalam menanggulangi
rendahnya minat baca masyarakat Kota Malang, berbagai pihak baik itu pemerintah
dan non-pemerintah telah berupaya melakukan berbagai hal, mulai dari pembukaan
perpustakaan umum hingga pengadaan bazaar. Namun, upaya tersebut masih belum
mampu meretas permasalahan rendahnya minat baca Kota Malang. Mengingat hal
tersebut, tim kami berusaha menawarkan solusi yakni dengan mendirikan pop up library bertajuk Bibliopop Library. Perpustakaan yang berkonsep
menjemput bola ini diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan minat baca masyarakat
Kota Malang mengingat keberadaan Bibliopop Library
juga mempermudah akses masyarakat terhadap buku.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumber
Buku
Rahman, Hasanudi. 2004. Manajemen Fit
and Proper Test, Yogyakarta: Pustaka Widyatama
Suyatno. 2012. Buletin Perpustakaan Bung Karno Tahun IV Volume ke 2. Jawa Timur
Sumber Online
Lucky Aditya, Minat Baca di Kota
Malang Rendah, diakses dari http://beritajatim.com/pendidikan_kesehatan/274082/minat_baca_di_kota_malang_masih_rendah.html
pada 8 Desember 2017
Arif Gunawan, Indoensia Second
Least Literate of 61 Nations, diakses dari http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html
pada 8 Desember 2017
2.
Lampiran Susunan Organisasi Tim Peneliti dan
Pembagian Tugas
No
|
Nama
|
NIM
|
Alokasi Waktu (Jam/Minggu/waktu)
|
Uraian Tugas
|
1
|
Lies
Aisyah Fardini
|
155120407111069
|
15
Jam
|
Ketua
Peneliti
|
2
|
Abudzar
Alghifarr
|
15512040111024
|
15
Jam
|
Anggota
Peneliti
|
3
|
Winda Fabiola
M.S
|
145120401111061
|
15
Jam
|
Anggota
Peneliti
|
No
|
Nama
|
Deskripsi Tugas
|
Job Desk
|
1.
|
Lies
Aisyah Fardini
|
1.
Pengembangan
portofolio mahasiswa dan mengevaluasinya kembali
2.
Melakukan
perbandingan antara portofolio baru dengan portofolio mahasiswa yang lama
3.
Membuat
langkah-langkah strategis untuk mengimplementasikan upaya yang akan dilakukan
4.
Observasi
Lapangan
|
Ketua
Peneliti
|
2.
|
Abudzar
Al Ghifari
|
1.
Membuat
Design
2.
Observasi
Lapangan
3.
Sosialisasi
aplikasi program
|
Anggota
Peneliti
|
3.
|
Winda
Fabiola
|
1.
Studi
literatur solusi yang pernah ditawarkan
2.
Analisa
data
3.
Evaluasi
|
Anggota
Peneliti
|
DOKUMENTASI
Laman
Instagram Bibliopop Library:
@bibliopop_mlg
Page
account Bibliopop Library Malang bisa
diakses di https://m.facebook.com/BibliopoplibraryMalang/
Bibliopop Library
[1] Arif Gunawan, Indoensia Second
Least Literate of 61 Nations, diakses dari http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/12/indonesia-second-least-literate-61-nations.html pada 8 Desember 2017
[2] Lucky Aditya, Minat Baca di Kota
Malang Rendah, diakses dari http://beritajatim.com/pendidikan_kesehatan/274082/minat_baca_di_kota_malang_masih_rendah.html pada 8 Desember 2017
[3] Suyatno, 2012, Buletin
Perpustakaan Bung Karno Tahun IV Volume ke 2, Jawa Timur
[4] Lucky Aditya, Loc.cit
[5] Hasanudi Rahman, 2004, Manajemen
Fit and Proper Test, Yogyakarta: Pustaka Widyatama, hlm 112
Tidak ada komentar:
Posting Komentar