KOREAN WAVE (GELOMBANG KOREA)
Lies Aisyah Fardini
155120407111069
Dalam
jangka waktu terakhir yakni pada abad 20 an, telah terjadi masuknya budaya
populer Korea keseluruh dunia. Produk budaya populer ini dinamakan sebagai Korean Wave atau Korean Hallyu dalam bahasa korea. Produk budaya populer yang
berhasil mengantar Korea dapat dikenal oleh masyarakat seluruh dunia ialah
dalam bentuk drama televisi korea (K-drama), film, musik populer Korea (K-pop),
tarian atau dance (Boyband dan GirlBand), games, makanan, fashion, pariwisata
dan bahasa.[1]
Korean
Wave mulai terkenal didunia, dimulai
pada awal tahun 1990an yakni ketika budaya popular Korea Selatan mulai masuk di
Asia Tenggara dan memunculkan ketertarikan akan hal-hal dari Korea Selatan.
Momentum penyebaran budaya ini berlanjut ketika salah satu grup musik pria
terkenal asal Korea, H.O.T, merilis album yang kemudian menjadi populer sampai
di Tiongkok dan menyebabkan istilah Hallyu diadaptasi oleh media di
Tiongkok untuk menjelaskan fenomena ini. Media China mengucapkan kata Hanliu in Chinese yang memiliki arti
mengenai popularitas Korea di China pada saat itu. Karena kepopuleran budaya
Korea di China membuat adanya drama Korea kemudian di ekspor ke Tiongkok pada
tahun 1996 dan diikuti oleh industri musik Korea dua tahun setelahnya. Korean
Wave kemudian menyebar ke Hong Kong, Vietnam, Thailand,
Indonesia, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin dan bahkan
negara-negara Arab dan Afrika.[2]
Penyebaran
Korean wave sehingga dapat dikenal
oleh dunia ialah dikarenakan adanya media elektronik, internet maupun media
atau jejaring sosial. Masyarakat internasional dapat mengenal korean wave
dikarenakan adanya beberapa alasan, salah satunya yaitu dikarenakan plot dan
drama yang ringan, ataupun musik yang enak didengar. Korean wave digunakan oleh pemerintahan Korea sebagai suatu alat
untuk memperbaiki diplomasi publik dan budaya, yang mana Korean wave dimanfaatkan oleh pemerintahan
Korea Selatan untuk mempromosikan kepentingan nasional korea dan untuk
meningkatkan citra Korea Selatan dimata dunia.[3]
Dalam
hal ini dapat dikatakan bahwa Korean wave digunakan pemerintah Korea selatan
sebagai soft power diplomacy. Soft power
diplomacy disini merupakan power yang dilakukan oleh negara untuk dapat
membentuk pendapat pihak lain, yang mana soft
power diplomacy ini dapat dilakukan menggunakan tiga sumber utama yakni
budaya, nilai politik dan politik luar negeri suatau negara. Soft power merupakan kebalikan dari hard power yang mana dalam mekanisme
diplomasinya soft power tidak
menggunakan tindakan yang bersifat memaksa (coercive).
Korean wave dapat dikatakan sebagai soft power diplomacy dikarenakan budaya
atau produk-produk Korean wave dijadikan
sebagai instrumen pemerintah negara Korea Selatan sebagai alat untuk
mengenalkan budaya korea kepada negara lain, mengenalkan sistem politik dan untuk meningkatkan citra Korea selatan
dimata dunia.[4]
Korean
wave merupakan sebuah hal yang tidak lepas dari peran pemerintah Korea selatan
dalam penyebarannya. Ada kerjasama berbagai pihak dengan dukungan penuh dari
pemerintah untuk menyebarkan popularitas Korea. Dukungan yang diberikan oleh
pemerintah Kore Selatan yaitu dengan dibentuknya KOCCA (Korean Culture and
Content Agency) pada 2001 yang bertujuan untuk menjamin hak cipta bagi produsen
dunia hiburan. Selain itu pemerintah juga memberikan bantuan dana dan
penyederhanaan birokrasi terhadap industri kreatif dibidang hiburan.[5]
Dampak
adanya Korean Wave bagi Korea Selatan sendiri sangatlah menguntungkan dalam
sisi ekonomi , yang mana dengan adanya perbaikan citra dari Korean Wave dapat
meningkatkan promosi pada produk budaya seperti drama korea, film, games, K-pop
dan industri kreatif korea lainnya. Selain itu dengan adanya korean wave, juga
meningkatkan sisi pariwisata ke Korea, masyarakat internasional jadi lebih
ingin mengunjungi negara korea karena kaya akan budayanya. Selain dalam bidang
ekonomi, Korean wave juga memiliki dampak terhadap perbaikan hubungan Korea
Selatan ke negara-negara yang dulunya tidak memiliki hubungan baik dengan Korea
Selatan seperti China dan Jepang. Hubungan yang awalnya tegang menjadi lebih
baik ketika Korean Wave masuk ke negara China dan Jepang. Sentimen atas negara
korea diberbagai negara mulai terhapuskan karena adanya pengaruh budaya populer
Korea Selatan.[6]
[1] Li Chih
Cheng, “SAIS U.S.-KOREA Yearbook 2008” (Maryland: John Hopkins University), hlm
196
[2] ibid
[3] Ibid
[4] Petita
Rosadi, Korean Wave Sebagai Instrumen Diplomasi Korea Selatan Dilihat dari
Paradigma Realisme, Liberalisme dan Konstruktivisme, diakses dari http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20376050-TA-Pettisa%20Rustadi.pdf
pada 25 November 2017, hlm 8
[5] Ibid,
hlm 9
[6] Ibid,
hlm 11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar