Kamis, 25 Januari 2018

Gelombang Korea (Korean Wave)


KOREAN WAVE (GELOMBANG KOREA)
Lies Aisyah Fardini
155120407111069
Dalam jangka waktu terakhir yakni pada abad 20 an, telah terjadi masuknya budaya populer Korea keseluruh dunia. Produk budaya populer ini dinamakan sebagai Korean Wave atau Korean Hallyu dalam bahasa korea. Produk budaya populer yang berhasil mengantar Korea dapat dikenal oleh masyarakat seluruh dunia ialah dalam bentuk drama televisi korea (K-drama), film, musik populer Korea (K-pop), tarian atau dance (Boyband dan GirlBand), games, makanan, fashion, pariwisata dan bahasa.[1]
Korean Wave mulai terkenal didunia, dimulai pada awal tahun 1990an yakni ketika budaya popular Korea Selatan mulai masuk di Asia Tenggara dan memunculkan ketertarikan akan hal-hal dari Korea Selatan. Momentum penyebaran budaya ini berlanjut ketika salah satu grup musik pria terkenal asal Korea, H.O.T, merilis album yang kemudian menjadi populer sampai di Tiongkok dan menyebabkan istilah Hallyu diadaptasi oleh media di Tiongkok untuk menjelaskan fenomena ini. Media China mengucapkan kata Hanliu in Chinese yang memiliki arti mengenai popularitas Korea di China pada saat itu. Karena kepopuleran budaya Korea di China membuat adanya drama Korea kemudian di ekspor ke Tiongkok pada tahun 1996 dan diikuti oleh industri musik Korea dua tahun setelahnya. Korean Wave kemudian menyebar ke Hong Kong, Vietnam, Thailand, Indonesia, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin dan bahkan negara-negara Arab dan Afrika.[2]
Penyebaran Korean wave sehingga dapat dikenal oleh dunia ialah dikarenakan adanya media elektronik, internet maupun media atau jejaring sosial. Masyarakat internasional dapat mengenal korean wave dikarenakan adanya beberapa alasan, salah satunya yaitu dikarenakan plot dan drama yang ringan, ataupun musik yang enak didengar. Korean wave digunakan oleh pemerintahan Korea sebagai suatu alat untuk memperbaiki diplomasi publik dan budaya, yang mana Korean wave dimanfaatkan oleh pemerintahan Korea Selatan untuk mempromosikan kepentingan nasional korea dan untuk meningkatkan citra Korea Selatan dimata dunia.[3]
Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Korean wave digunakan pemerintah Korea selatan sebagai soft power diplomacy. Soft power diplomacy disini merupakan power yang dilakukan oleh negara untuk dapat membentuk pendapat pihak lain, yang mana soft power diplomacy ini dapat dilakukan menggunakan tiga sumber utama yakni budaya, nilai politik dan politik luar negeri suatau negara. Soft power merupakan kebalikan dari hard power yang mana dalam mekanisme diplomasinya soft power tidak menggunakan tindakan yang bersifat memaksa (coercive). Korean wave dapat dikatakan sebagai soft power diplomacy dikarenakan budaya atau produk-produk Korean wave dijadikan sebagai instrumen pemerintah negara Korea Selatan sebagai alat untuk mengenalkan budaya korea kepada negara lain, mengenalkan sistem politik  dan untuk meningkatkan citra Korea selatan dimata dunia.[4]
Korean wave merupakan sebuah hal yang tidak lepas dari peran pemerintah Korea selatan dalam penyebarannya. Ada kerjasama berbagai pihak dengan dukungan penuh dari pemerintah untuk menyebarkan popularitas Korea. Dukungan yang diberikan oleh pemerintah Kore Selatan yaitu dengan dibentuknya KOCCA (Korean Culture and Content Agency) pada 2001 yang bertujuan untuk menjamin hak cipta bagi produsen dunia hiburan. Selain itu pemerintah juga memberikan bantuan dana dan penyederhanaan birokrasi terhadap industri kreatif dibidang hiburan.[5]
Dampak adanya Korean Wave bagi Korea Selatan sendiri sangatlah menguntungkan dalam sisi ekonomi , yang mana dengan adanya perbaikan citra dari Korean Wave dapat meningkatkan promosi pada produk budaya seperti drama korea, film, games, K-pop dan industri kreatif korea lainnya. Selain itu dengan adanya korean wave, juga meningkatkan sisi pariwisata ke Korea, masyarakat internasional jadi lebih ingin mengunjungi negara korea karena kaya akan budayanya. Selain dalam bidang ekonomi, Korean wave juga memiliki dampak terhadap perbaikan hubungan Korea Selatan ke negara-negara yang dulunya tidak memiliki hubungan baik dengan Korea Selatan seperti China dan Jepang. Hubungan yang awalnya tegang menjadi lebih baik ketika Korean Wave masuk ke negara China dan Jepang. Sentimen atas negara korea diberbagai negara mulai terhapuskan karena adanya pengaruh budaya populer Korea Selatan.[6]



[1] Li Chih Cheng, “SAIS U.S.-KOREA Yearbook 2008” (Maryland: John Hopkins University), hlm 196
[2] ibid
[3] Ibid
[4] Petita Rosadi, Korean Wave Sebagai Instrumen Diplomasi Korea Selatan Dilihat dari Paradigma Realisme, Liberalisme dan Konstruktivisme, diakses dari http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20376050-TA-Pettisa%20Rustadi.pdf pada 25 November 2017, hlm 8
[5] Ibid, hlm 9
[6] Ibid, hlm 11 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGUGURAN DAN BLIGHTED OVUM (cerita pribadi)

     Hai, hari ini aku akan sedikit cerita tentang pengalaman hidup aku yang cukup dramatis dan ada sedihnya hehe. Jadi aku menikah pada 28 ...