Kamis, 25 Januari 2018

CHINA FUTURE RELATION WITH JAPAN


China Future Relation with Japan
Lies Aisyah Fardini (155120407111069)
Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya
Abstract : The relationship between China and Japan was ups and downs, with Japan and China having bitter memories in the pre-war era until the end of the second world war. The hatred and sentiment of Chinese society to Japan began in 1931 when the Nanking and Mukden incidents occurred. Other events that quite aggravate the relationship of both is with the dispute area of Senkaku Island or Diayou Island. However, although on the political side of the two countries are different and have problems of history and disputes of the Island, they continue to improve cooperation relations in the economic field after signing the normalization of their relationship to date. The relationship makes both dependencies and makes them inseparable as economic partners. Therefore, their future relationship will tend to be cooperation rather than conflict. This research uses descriptive qualitative method in this research analysis.
Key words: cooperation, economic cooperation, China-Japan future,
Pendahuluan
Di kawasan Asia Timur terdapat dua negara yang mengalami perselisihan sampai saat ini yakni China dan Jepang. Hubungan China dan Jepang memiliki pasang surut sampai saat ini. Hal tersebut dikarenakan diantara keduanya memiliki sejarah yang cukup panjang. Dipendidikan negara China sendiri tertulis mengenai sejarah kelam, yang awalnya adalah pengalaman nasional traumatis China pada saat terjadinya Perang Opium pertama pada tahun 1839-1842 sampai pada pengalaman mengenai perang Sino-Jepang kedua yang berakhir pada tahun 1945. Pemerintah China pun sampai saat ini terus membeberkan fakta sejarah mengenai kejahatan Jepang dan Barat di dalam pendidikan dari jenjang taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Selain itu pemerintah juga turut membangun monumen bersejarah untuk memperingati sejarah tersebut.[1]
Perang antara Jepang dan China dimulai pada tahun 1931, dimana pada saat itu Jepang menduduki wilayah Manchuria di China. Hal tersebut membuat awal terjadinya konflik besar antara China dan Jepang pada tahun 1937.[2] Pada perang antara kedua negara tersebut juga memunculkan stigma negatif Jepang oleh China sampai saat ini, hal tersebut disebabkan karena terbunuhnya 300.000 masyarakat China yang dilakukan oleh tentara kekaisaran Jepang selama perang terjadi. Terbunuhnya banyak orang China itu dinamakan sebagai peristiwa Nanking.[3] Selain peristiwa Nanking, insiden lain yang dilakukan oleh Jepang di China dibuktikan dengan adanya insiden Mukden, yang mana tentara militer Jepang meledakkan jalur kereta api disekitar Mukden dan menuduh warga China sebagai dalang dalam dalam peledakan kejahatan tersebut. Karena adanya tragedi dan peristiwa tersebut kedua negara sampai saat ini terlebih China memiliki stigma negatif terhadap Jepang.[4]
Selain adanya peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh Jepang di China yang membuat adanya kenangan pahit diantara keduanya, kedua negara ini juga mengalami perselisihan sengketa wilayah kepulauan Senkaku (dalam bahasa Jepang) atau wilayah kepulauan Diayou (dalam bahasa China). Sejarah sengketa ini terjadi sudah sejak lama yaitu awalnya dimulai pada tahun 1895, ketika Jepang menduduki pulau Senkaku yang merupakan sebuah pulau yang tidak dihuni oleh penduduk. Pada saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap bahwa di pulau Senkaku terdapat banyak cadangan gas bumi dan minyak dan dua tahun setelahnya pemerintah Republik Rakyat China mengklaim bahwa secara sejarah pulau Senkaku atau Diayou adalah miliknya.[5] China menganggap Jepang mengambil pulau tersebut pada saat China menyerah kepada Jepang tahun 1895. Selain itu China juga menyebutkan bahwa pada perjanjian Shimonoseki, Jepang tidak menyebutkan pulau Senkaku atau Diayou didalam perjanjiannya. Sehingga China menganggap bahwa pulau Senkaku bukan bagian dari Jepang.[6]
            Peristiwa dan sengketa yang dialami oleh kedua negara sampai ini menjadi gejolak yang menimbulkan adanya pasang surut hubungan China dan Jepang. Dalam hal ini penulis akan melihat mengenai masa depan hubungan China dan Jepang dibalik adanya peristiwa yang menjadi kenangan pahit dipihak China dan sengketa pulau yang masih belum terselesaikan hingga saat ini, apakah masa depan China dengan Jepang cenderung konfliktual ataukah masa depan hubungan kedua negara mengalami peningkatan dalam bidang lain seperti ekonomi.
Metode Penelitian
            Dalam jurnal penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, yang mana dalam penelitian ini penulis melakukan pendeskripsian lewat kata-kata dari sumber data yang diperoleh melalui sumber pustaka seperti tulisan-tulisan, jurnal, buku, artikel, koran, dokumen dan lain sebagainya.[7] Selain itu teknik pengumpulan data untuk jurnal penulis ini adalah kepustakaan yang mana informasi yang ditemukan dengan fenomena yang terjadi dianalisa dengan pendeskripsian atau penggambaran dan penjelasan yang mendetail.[8]
Hasil dan Pembahasan
            Masa depan hubungan China dan Jepang dibalik peristiwa dan sengketa yang terjadi yakni pengalaman pahit peristiwa Nanking dan Mukden, dan sengketa pulau Senkaku atau Diayou dapat dianalisis dengan melihat kenyataan hubungan keduanya sampai saat ini. Normalisasi hubungan China dan Jepang dimulai pada tahun 1974 dan ditandangani pada tahun 1978 di era kepemimpinan Den Xioping, yang mana pada era kepemimpina tersebut China mulai memberlakukan adanya kebijakan Open Door Policy. Kebijakan ini mulai membuka hubungan China dengan negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat dan Eropa. Selain itu juga pada era pemerintahan tersebut, investasi di China tidak hanya dilakukan didalam negeri saja tapi keterbukaan ekonomi mulai terjadi di era ini. Dalam hal ini pada era Deng Xiaoping China mulai mengalami keterbukaan dalam hal ekonomi, pendidikan dan perpolitikan salah satunya yaitu dengan normalisasi hubungan dengan Jepang.[9]
            Normalisasi China dan Jepang dimulai dengan disepakatinya perjanjian Sino-Japan Treaty of Peace and Friendship. Dalam hal ini keduanya sepakat untuk memperbaiki hubungan dan memulai kembali menjalin hubungan diplomatik yang damai dan bersahabat. Setelah hubungan kembali normal, kedua negara mulai melakukan kerjasama dibidang perekonomian antar kedua negara, seperti kerjasama perdagangan, penerbangan, investasi dan navigasi. Normalisasi hubungan antara kedua negara ini membuat adanya keuntungan untuk kedua belah pihak, yang mana China merupakan pasar besar bagi barang dan jasa produksi Jepang. Sedangkan Jepang merupakan pasar besar bagi investasi China. Keduanya saling melengkapi hal tersebut dapat dilihat dari China yang memiliki sumber daya alam yang kaya, tenaga kerja yang banyak dan memiliki modal sementara, sedangkan Jepang memiliki pengetahuan, teknologi dan informasi yang banyak.[10]
            Hubungan keduanya pasca normalisasi tidak selalu berjalan mulus dan tanpa adanya halangan. Sengketa kepulauan Senkaku atau Diayou kerap menimbulkan sentimen terhadap Jepang di China dan juga sentimen China di Jepang juga kerap muncul. Pada tahun 2010 yakni ketika ada warga negara China yang melakukan kegiatan memancing diwilayah Pulau senkaku membuat adanya aksi protes masyarakat Jepang terhadap China atas hal tersebut.[11] Selain itu pada tahun 2012, hubungan keduanya juga cukup merenggang karena memanasnya konflik sengketa wilayah pulau, yang mana Jepang melakukan pembelian dan nasionalisasi yang kemudian memicu protes masyarakat China karena Jepang dianggap melanggar sejarah dan juga kedaulatan wilayahnya.[12]
Sehingga pada tahun 2012 China dibawah State Council Informaion Office China  pun mengeluarkan sebuah White Paper atau makalah putih yang berisi statement yang menyatakan bahwa klaim atas kepemilikan pulau Senkaku atau Diayou milik Jepang adalah sebuah pernyataan yang salah. Secara sejarah juga menurut China jepang telah menyalahi sejarah, karena pada saat itu Jepang melakukan invasi ke China dan setelah Jepang menyerah kepada sekutu harusnya kepemilikan Pulau Senkaku juga dikembalikan ke China. Selain itu perjanjian antara Jepang dan Amerika Serikat pada saat itu mengenai kepemilikan Pulau Senkaku atau Diayou tidaklah valid menurut China karena tidak sesuai fakta. Dalam hal ini China mengambil tindakan tegas untuk melindungi wilayah kedaulatannya. China mengeluarkan pernyataan ini dikarenakan karena tindakan Jepang yang menyalahi perjanjian normalisasi hubungan antara keduanya yang diharapkan secara damai dan bersahabat yang disepakati pada tahun 1978. Pernyataan mengenai nasionalisasi dan pembelian Pulau Senkaku juga dilakukan secara sepihak, sehingga membuat hubungan keduanya sedikit memanas.[13]
Meski kedua negara berseteru karena sejarah panjang dan sengketa pulau yang belum memiliki titik temu dan juga politik keduanya yang berbeda yakni China yang berideologi komunis dan Jepang yang berideologi liberalis. Hubungan keduanya dalam bidang ekonomi pasca normalisasi cenderung meningkat. Terlebih lagi China juga melakukan modernisasi dan membuat kebijakan terbuka dan reformasi terhadap ekonomi. Terbukanya perekonomian China yang semulanya tertutup membawa negara tersebut kepada kemajuan. Hal itu bisa dilihat dari meningkatnya pertumbuhan PDB di China rata-rata 9,6% pertahun dari tahun 1979 sampai 1999. Pemerintah yang saat itu menjabat yakni Deng Xiaoping yang juga merupakan bapak perekonomian China terus mengupayakan negara China dapat bersaing dengan negara-negara di Dunia. Selain itu juga pada saat terjadi krisis di Asia pada tahun 1998, China mulai belajar untuk tumbuh secara pesat dengan masuk ke organisasi perdagangan bebas yaitu World Trade Organization (WTO).[14]
Pasang surut kerjasama ekonomi antara keduanya juga pernah terjadi pada tahun 2012 dikarenakan isu yang memanas akibat sengketa Pulau Senkaku atau Diayou oleh kedua negara. Sehingga menimbulkan beberapa dampak seperti penurunan ekspor mobil dan barang lainnya Jepang ke China, penurunan pariwisata di Jepang dan China, penurunan investasi China di Jepang dan hilangnya minat kerjasama orang China dalam melakukan kerjasama dengan Jepang.[15] Namun tetap saja hubungan keduanya dibidang perekonomian tidak bisa terpisahkan, meski pernah mengalami pasang surut hubungan perekonomian tidak bisa berseteru dalam jangka waktu panjang seperti pada hubungan politik kedua negara. Jepang memiliki Asosiasi Promosi Perdagangan Internasional atau Japanese Association for Promotion of International Trade (JAPIT) dan China memiliki dewan promosi untuk Perdagangan Internasional atau China Council for The Promotion of International Trade (CCPIT). Kedua asosiasi ini memainkan penting mengenai perdagangan kedua negara dan juga menyerukan agar kedua negara kembali melakukan normalisasi hubungan dengan cara yang benar sehingga kerjasama perekonomian keduanya juga mengalami peningkatan.[16]
Kedua negara tersebut memiliki peran penting dalam hubungan perekonomian. Dalam sisi China, Jepang merupakan negara yang berperan penting dalam pemenuhan produk semi konduktor di China, seperti peralatan elektronik, mesin presisi dan juga bahan dasar untuk pabrik yang ada di China. Dalam hal ini China sangat bergantung terhadap bahan baku dan peralatan produksi dari Jepang, yang nantinya pabrik di China melakukan perakitan dan kemudian hasil jadinya diekspor ke luar negeri. Selain itu Jepang juga merupakan investasi asing yang penting bagi China, yang mana Jepang investasi di China mencapai 7,38 miliar USD dan investasi China dari tahun ke tahun selalu meningkat.[17] Pada sisi Jepang, China merupakan mitra yang sangat penting dikarenakan adanya beberapa hal yaitu bahwa China merupakan pengimpor bahan energi yang besar ke Jepang, yang mana ketika Jepang kekurangan energi maka China yang memback up. Selain itu China merupakan negara yang paling banyak menyumbang wisatawan asing ke Jepang. Hal tersebut dikarenakan wilayah keduanya yang berdekatan dan juga pariwisata Jepang yang memiliki keunikan. Selain itu China juga merupakan pasar besar bagi produk-produk Jepang.[18]
Masa depan hubungan China dan Jepang dapat diprediksi lebih kepada kerjasama ekonomi dengan Jepang. Dikarenakan China sampai saat ini masih memiliki permasalahan berupa sengketa pulau Senkaku atau Diayou dengan Jepang. Selain itu dalam hubungan politik keduanya masih menyimpan masalalu yang kelam sehingga terjadi pasang surut hubungan.[19] Kerjasama yang dilakukan China dan Jepang ini juga disebabkan karena China saat ini mengeluarkan kebijakan China Peaceful Rise yang menjadikan China melakukan banyak pengembangan dan kebangkitan negaranya secara damai. Dulu yang awalnya China menjadi negara yang miskin bisa berkedudukan setara dengan Jepang. Sampai saat ini pun China dan Jepang berlomba-lomba untuk bersaing dalam bidang ekonomi, meskipun kedudukan perekonomian China saat ini mengalami banyak sekali peningkatan dibandingkan oleh Jepang. Pertumbuhan Perekonomian ini nantinya juga akan digunakan oleh China untuk menjadi hegemoni di kawasan maupun di Dunia menyaingi Amerika Serikat.[20]
Hubungan masa depan China dan Jepang diprediksi akan terus meningkat dalam bidang ekonomi seperti perdagangan barang dan jasa, investasi dan bisnis. Keterkaitan hubungan kedua negara saat ini juga tidak hanya satu arah saja atau dapat dikatakan hanya menguntungkan Jepang saja, namun hubungan keduanya berubah seiring China mengalami peningkatkan perekonomian menjadi hubungan yang dua arah. Kedua negara ini saling memiliki sisi yang sama untuk melakukan kerjasama dalam bidang ekonomi.[21] Dapat disimpulkan bahwa peristiwa sejarah antara China dan Jepang beserta sengketa yang terjadi diantara keduanya tidak menghalangi kerjasama antar keduanya dan prediksi masa depan China dan Jepang akan lebih pada kerjasama daripada konflik yang berlarut.


Daftar Pustaka
Sumber Buku
Endaswara, Suwardi . Metode, teori, teknik penelitian kebudayaan.  Yogyakarta : Pustaka Widyagama
F.Kornberg, Judith. 2005. China In World Politics, US: Lynne Rienner Publisher
Zed, Mestika  2004. Metode Penelitian Kepustakaan.  Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
Sumber Online
A Smith, Sheila . Japan and The East China Sea Dispute . diakses dari https://www.cfr.org/content/.../Japan_and_the_East.pdf pada 18 Desember 2017
Bijian, Zheng.  2005. China’s ‘’Peaceful Rise’’ to Great Power Status. Diakses dari https://www.foreignaffairs.com/articles/asia/2005-09-01/chinas-peaceful-rise-great-power-status pada 18 Desember 2017
Du,  Juan. Development Trend of Sino-Japanese Economic and Trade Relations.  Diakses dari http://www.sciedu.ca/journal/index.php/bmr/article/download/5007/2942 pada 18 Desember 2017
F Vogel,Ezra . 2011. China Under Deng Xiaopings Leaders.  Diakses dari http://www.eastasiaforum.org/2011/09/27/china-under-deng-xiaopings-leadership/ pada 18 Desember 2017
Hung Kwan, Chi. 2014. The Rise of China and Transformation of Japan-China Relations: Opportunities and Challenges For Japan. Diakses dari https://www.rieti.go.jp/en/china/14080501.html pada 18 Desember 2017
Jing, Mao. 2014. Economic Cooperation Benefits Both China and Japan. Diakses dari http://www.chinadaily.com.cn/world/2014-08/20/content_18455171.htm pada 18 Desember 2017
M Garlicki, Kasper. 2014. The Senkaku/Diayou Island Dispute: History and Current Development. Diakses dari https://eurasiacenter.org/publications/Senkaku_Diaoyu_Island_Dispute.pdf pada 18 Desember 2017
McGregor,  Tom. China and Japan can Boost Economic Cooperation Partnerships. Diakses dari http://english.cctv.com/2017/04/13/ARTInvdjInuPGJ8rXnlzxNpp170413.shtml pada tanggal 18 Desember 2017
Ministry of Foreign Affairs of the People ‘s Republic of China. Diayou Dao, an Iherent Territory of China. Diakses dari http://www.fmprc.gov.cn/mfa_eng/topics_665678/diaodao_665718/t973774.shtml pada 28 November 2017
Ministry of Foreign Affair Japan. Economic Cooperation Program for China. Diakses dari http://www.mofa.go.jp/policy/oda/region/e_asia/china-2.html pada 18 Desember 2017
Overy, Richard . China’s War with Japan, 1937-1945: The Struggle for Survival by Rana Mitter Review. Diakses dari https://www.theguardian.com/books/2013/jun/06/china-war-japan-rana-mitter-review pada 18 Desember 2017
Patnistik, Egidius.  Akar Dendam Panjang China Kepada Jepang.  Diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2012/09/20/0812456/Akar.Dendam.Panjang.China.kepada.Jepang pada 25 November 2017
Soon Do, Hong. 2015. China-Japan Relations Worsen Ahead of 79th Anniversary of The Nanjing Massacre.  Diakses dari https://www.huffingtonpost.com/asiatoday/china-japan-relations-wor_b_13573456.html pada 18 Desember 2017
Wang, Zheng.  2014. History Education : The Source of Conflict Between China and Japan. Diakses dari https://thediplomat.com/2014/04/history-education-the-source-of-conflict-between-china-and-japan/ pada 18 Desember 2017



[1] Zheng Wang, 2014, History Education : The Source of Conflict Between China and Japan, , diakses dari https://thediplomat.com/2014/04/history-education-the-source-of-conflict-between-china-and-japan/ pada 18 Desember 2017
[2] Richard Overy, China’s War with Japan, 1937-1945: The Struggle for Survival by Rana Mitter Review, diakses dari https://www.theguardian.com/books/2013/jun/06/china-war-japan-rana-mitter-review pada 18 Desember 2017
[3] Hong Soon Do,2015, China-Japan Relations Worsen Ahead of 79th Anniversary of The Nanjing Massacre, diakses dari https://www.huffingtonpost.com/asiatoday/china-japan-relations-wor_b_13573456.html pada 18 Desember 2017
[4] Egidius Patnistik, Akar Dendam Panjang China Kepada Jepang, diakses dari http://internasional.kompas.com/read/2012/09/20/0812456/Akar.Dendam.Panjang.China.kepada.Jepang pada 25 November 2017
[5] Kasper M Garlicki, 2014, The Senkaku/Diayou Island Dispute: History and Current Development, diakses dari https://eurasiacenter.org/publications/Senkaku_Diaoyu_Island_Dispute.pdf pada 18 Desember 2017
[6] Ibid,hlm 3
[7] Suwardi Endaswara, Metode, teori, teknik penelitian kebudayaan, Yogyakarta : Pustaka Widyagama, hlm 85
[8] Mestika Zed, 2004, Metode Penelitian Kepustakaan, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, hlm 31
[9] Ezra F Vogel, 2011, China Under Deng Xiaopings Leaders, diakses dari http://www.eastasiaforum.org/2011/09/27/china-under-deng-xiaopings-leadership/ pada 18 Desember 2017
[10] Mao Jing, Economic Cooperation Benefits Both China and Japan, diakses dari http://www.chinadaily.com.cn/world/2014-08/20/content_18455171.htm pada 18 Desember 2017
[11] Sheila A Smith, Japan and The East China Sea Dispute , diakses dari https://www.cfr.org/content/.../Japan_and_the_East.pdf pada 18 Desember 2017
[12] Ministry of Foreign Affairs of the People ‘s Republic of China, Diayou Dao, an Iherent Territory of China, diakses dari http://www.fmprc.gov.cn/mfa_eng/topics_665678/diaodao_665718/t973774.shtml pada 28 November 2017
[13] Ibid.
[14] Ministry of Foreign Affair Japan, Economic Cooperation Program for China, diakses dari http://www.mofa.go.jp/policy/oda/region/e_asia/china-2.html pada 18 Desember 2017
[15] Juan Du, Development Trend of Sino-Japanese Economic and Trade Relations, diakses dari http://www.sciedu.ca/journal/index.php/bmr/article/download/5007/2942 pada 18 Desember 2017
[16] TomMcGregor, China and Japan can Boost Economic Cooperation Partnerships, diakses dari http://english.cctv.com/2017/04/13/ARTInvdjInuPGJ8rXnlzxNpp170413.shtml pada tanggal 18 Desember 2017
[17] Juan Du, Loc.cit, hlm 2
[18] Ibid
[19] Judith F.Kornberg, 2005, China In World Politics, US: Lynne Rienner Publisher, hlm 206
[20] Zheng Bijian, 2005, China’s ‘’Peaceful Rise’’ to Great Power Status, diakses dari https://www.foreignaffairs.com/articles/asia/2005-09-01/chinas-peaceful-rise-great-power-status pada 18 Desember 2017
[21] Chi Hung Kwan, 2014, The Rise of China and Transformation of Japan-China Relations: Opportunities and Challenges For Japan, diakses dari https://www.rieti.go.jp/en/china/14080501.html pada 18 Desember 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGUGURAN DAN BLIGHTED OVUM (cerita pribadi)

     Hai, hari ini aku akan sedikit cerita tentang pengalaman hidup aku yang cukup dramatis dan ada sedihnya hehe. Jadi aku menikah pada 28 ...