Sabtu, 19 Mei 2018

ANALISA BIAS MEDIA DALAM PERANG SURIAH MENGGUNAKAN 10 CARA FAIRNESS AND ACCURACY IN REPORTING (FAIR)


ANALISA BIAS MEDIA DALAM PERANG SURIAH MENGGUNAKAN 10 CARA FAIRNESS AND ACCURACY IN REPORTING (FAIR)
Diajukan untuk memenuhi nilai tugas kelompok mata kuliah Komunikasi dan Media Global
Dosen Pengampu : Muhammad Riza Hanafi, S.IP., MIA.



Disusun Oleh : Kelompok 5

Mutiara Daimatus                   : 155120401111011
Syuhrotul Ayuniyah                : 155120407111018
Adrian Zhafiri                         : 155120407111020
Lies Aisyah Fardini                 : 155120407111069

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang, mencari berita baru ataupun berita yang sudah lampau bukanlah menjadi suatu hal yang sulit. Berita-berita tersebut dapat diakses melalui berita koran, televisi, radio atau internet sekalipun. Hampir dari seluruh bentuk media menyajikan berita-berita, baik dari media massa hingga media sosial. Media pada saat ini memiliki “power” yang cukup besar untuk mengubah budaya dan pandangan kita terhadap isu isu politik. Berita berita yang disebarkan oleh media berita dan institusi haruslah adil dan akurat. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari bias media. Tetapi pada saat ini bias-bias masih terdapat di dalam berita atau media yang disebarkan oleh media berita ataupun institusi.
Terdapat sepuluh cara yang dikemukakan oleh Fairness and Accuracy in Reporting (FAIR) untuk mengetahui bias yang ada di dalam suatu berita. Yang pertama adalah Who are the sources?.  Cara yang kedua adalah Is there a lack of diversity?. Cara yang ketiga adalah From whose point of view is the news reported?. Cara yang keempat adalah Are there double standards?. Cara yang kelima adalah Do stereotypes skew coverage?. Cara yang keenam adalah  What are the unchallenged assumptions?. Cara yang ketujuh adalah  Is the language loaded?. Cara yang kedelapan adalah Is there a lack of context?. Cara yang kesembilan adalah  Do the headlines and stories match?. Cara terakhir adalah  Are stories on important issues featured prominently?.[1]
Dengan adanya sepuluh cara tersebut, akan dijelaskan lebih lanjut mengenai pengertian beserta analisis kami dalam mendeteksi bias media terhadap Perang Suriah pada tahun 2011 hingga kini. Dimana fokus media yang kami gunakan di dalam paper ini adalah CNN (Cable New Network). Sehingga dapat memudahkan kami dalam menganalisis bias media yang dilakukan oleh CNN dalam pemberitaan kasus Perang Suriah. Kami mengharapkan, melalui paper ini para pembaca akan mudah dalam mendeteksi bias-bias yang dilakukan oleh media massa dakam melakukan sebuah pemberitaan terhadap suatu isu.
Studi Kasus
Perang Saudara di Suriah sudah terjadi selama 7 tahun, dimulai pada bulan Maret tahun 2011 yang dikarenakan adanya demonstrasi besar-besaran untuk menentang kepemimpinan Presiden Bashar Al-Assad. Mulai dari awal Perang Saudara sampai pada saat ini, kota-kota besar di Suriah banyak yang hancur dan sebagian kota sudah tidak bisa digunakan sebagai tempat tinggal ataupun tempat mencari nafkah, kota-kota tersebut antara lain adalah Aleppo, Raqqa, Homs, dan Damascus.[2] Dengan terjadinya Perang Saudara ini banyak situs-situs UNESCO ataupun gedung-gedung architectural yang hancur. Seperti contohnya situs yang berada di Kota Damascus yang bernama Garden of Eden. Situs dan kota ini dahulu dapat dianggap sebagai heaven on earth, tetapi sekarang semenjak terjadinya perang saudara ini, kota dan situs ini adalah bentuk yang paling dekat dengan kata hell on earth. Begitu juga yang terjadi dengan kota Aleppo, yang sebelumnya merupakan rumah bagi 2 juta penduduk, sekarang hanyalah kota sisa perang yang tidak dapat dikatakan atau digunakan sebagai tempat tinggal.[3] Perang Aleppo juga dianggap sebagai perang yang paling sadis selama 7 tahun Perang Saudara ini berjalan. Ratusan orang meninggal dunia dan ratusan orang lainnya mengalami luka parah. Kota ini kemudian diambil alih oleh pihak presiden Bashar Al-Assad pada bulan Desember 2016 dengan bantuan dari Russia melalui udara.
Begitu pula yang terjadi dengan Kota Homs. Kota terbesar ketiga di negara Suriah ini menjadi pusat dari perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Suriah terhadap presiden Bashar Al-Assad.[4] Tetapi, Kota Homs kini telah hancur karena kota ini diambil alih oleh pihak presiden Bashar Al-Assad pada tahun 2014 dengan menggempur secara keras dan menghancurkan beberapa gedung yang dianggap sebagai tempat bersembunyi pada pemberontak tersebut. Kota-kota yang pernah menjadi medan perang ini ada beberapa yang dibangun ulang oleh pemerintah, tetapi kota-kota tersebut merupakan kota-kota yang dikuasai oleh pihak pemerintah, sedangkan kota yang dikuasai oleh pemberontak, tidak ada pembangunan ulang oleh pemerintah.
10 Cara Mendeteksi Bias Media “FAIR” dan Analisis Terhadap Studi Kasus :
1. Who are the sources?
Dalam melihat bagaimana dan dari siapa sumber berita tersebut diambil. Biasanya media berita mengandalkan pihak pihak atau aktor-aktor “official”. Pihak pihak atau aktor-aktor tersebut dianggap tidak merepresentasikan seluruh masyarakat. Media harus mencari narasumber lebih agar berita yang dihasilkan tidak menjadi bias. Cara yang mudah yang pertama untuk menemukan bias adalah menghitung sumber dari korporasi atau pihak “official” lainnya dan bandingkan dengan jumlah dari masyarakat, ahli dan suara minoritas lainnya.[5]
*      Analisis :
Dalam melakukan analisis bias menggunakan cara yang pertama adalah dengan  melihat narasumber yang digunakan oleh media berita. Seperti contoh yang terdapat  dalam berita CNN yang berjudul “Airstrikes hit Syrian enclave where many are fleeing, activists say”.[6] Pada berita tersebut dapat dilihat bahwa narasumber yang digunakan hanyalah pihak-pihak atau aktor-aktor yang menjadi “official”, contohnya The UN Office for the Coordination of Humanitarian Affair (OCHA), Ambasador Suriah untuk UN, dan pihak UN yang sedang berada di lapangan . Sedangkan tidak ada narasumber dari pihak yang menjadi korban ataupun pihak yang merasakan dampak dari airstrike yang digunakan untuk membombardir kota tersebut. Dengan hanya menggunakan satu narasumber saja, berita yang ditulispun menjadi bias. Karena tidak adanya narasumber lain yang dicantumkan di dalam laman berita tersebut.
2.  Is there a lack of diversity?
Melihat bagaimana adanya perbedaan pada posisi pembuat keputusan. Jika hampir seluruh pembuat keputusan memiliki latar belakang yang sama, maka berita yang dihasilkan dapat dianggap bias, karena pengambil keputusan tidak mewakilkan seluruh lapisan masyarakat. Selain itu juga, perlu untuk mempertanyakan apakah disuatu berita yang dianalisis biasnya terdapat adanya unsur keragaman gender atau RAS didalamnya. Komposisi pekerja dibidang pers yakni pembuat berita, dalam hal ini bisa berkaitan dengan gender dan latar belakang sosial politik dapat mempengaruhi perspektif berita yang ditulis.[7]
*      Analisis :
Berita CNN yang berjudul “How Seven Years Of War Turned Syiria’s War Cities Into ‘Hell On Earth’”[8] ditulis oleh seorang reporter perempuan bernama Sheena McKenzie dan Tamara Qiblawi. Dalam hal penulisan berita ini ada unsur keragaman dalam penulisan berita, dimana tokoh perempuan juga bisa turut andil dalam melaporkan peristiwa dan menuliskannya di berita. Jadi, dilihat dari berita yang dianalisis, tidak terdapat ada kekurangan keragaman dalam penulisan berita ini karena dalam penulisan berita bukan hanya tergantung oleh sistem yang patriarki saja dimana pekerja pers didominasi oleh  reporter yang berjenis kelamin laki-laki saja melainkan pekerja pers  atau reporeter perempuan turut andil juga. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa peran wanita dalam memberitakan kondisi perang di Suriah ini ternyata dilibatkan oleh media CNN.
Selanjutnya dalam pembuatan berita di media pasti dipengaruhi oleh perspektif dari si pembuat berita atau reporter berita, yang mana di berita yang penulis analisis ini memberitakan kondisi di Suriah yang digambarkan secara realitas dan lebih memfokuskan terhadap sisi kemanusiaan terjadi di Suriah. Perspektif penulisan berita antara laki-laki dan perempuan cenderung berbeda, perempuan lebih menggunakan bahasa yang menyentuh perasaan dibandingkan dengan laki-laki yang cenderung menggunakan logika.
Hal tersebut dapat dilihat dari dimasukannya ungkapan opini dari pihak lain yang cenderung menggambarkan Suriah bagian Damaskus yang dulunya merupakan surga karena memiliki banyak fasilitas, taman dan hal-hal yang serba ada kini berubah menjadi seperti neraka yang ada di bumi karena kerusakan yang terjadi dimana-mana. Selain itu penggunaan ungkapan penggambaran kondisi allepo yang disebut sebagai kota yang berlumur darah juga merupakan sebuah bahasa yang penuh dengan perasaan atas realitas yang ada karena remuk dan leburnya bangunan disana.
3. From whose point of view is the news reported?
Dalam hal ini mempertanyakan dari manakah sudut pandang pembuatan berita itu didapatkan, yang mana berita sering kali melihat sudut pandang pembuat kebijakan daripada sudut pandang manusia yang menerima dampak kebijakan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sudut pandang berita biasanya didapatkan dari pihak yang memiliki memiliki kekuasaan atau powerfull dan bukan dari pihak yang lemah dan tidak memiliki kuasa atau powerless. Pastikan bahwa individu atau kelompok yang terkena dampak dari isu yang dihasilkan oleh media tersebut merasa bahwa dirinya sudah merasa diwakilkan oleh berita tersebut.[9]
*      Analisis :
Dalam berita yang dianalisis pemberitaan tersebut dipublikasikan dari Media CNN, yang mana media ini merupakan media yang berasal dari Amerika Serikat dan pusatnya berbasis di Atlanta, Georgia.[10]  Pembuatan berita mengenai perang di Suriah ini cenderung mengikuti sudut pandang Amerika Serikat juga, yang mana menyebutkan bahwa perang yang terjadi di Suriah disebabkan oleh pemberontakan rezim Bashar Al-Assad sebagai dalang dibalik perang yang terjadi di Suriah. Dari berita CNN tanggal 7 April 2017 yang berjudul ‘Serangan Trump ke Suriah Tanpa Izin Kongres’ yang ditulis oleh Lesthia Kertopati mengungkapkan bahwa Amerika serikat turun tangan dalam menangani konflik yang ada di Suriah, hal itu dapat dilihat dari serangan militer udara ke pangkalan militer Suriah atas serangan beracun di Idlib yang diinisiasi oleh Rezim Bashar Al-Assad.[11]  Berita dalam studi kasus dan juga berita pembanding ini memiliki kesamaan dalam melihat perang Suriah, dimana aktor yang menjadi dalang dibalik konflik di Suriah adalah Bashar Al-Assad. Pada intinya dalam sudut pandang penulisan berita ini cenderung dipengaruhi oleh perspektif Amerika Serikat.
4. Are there double standards?
Melihat apakah terdapat standar ganda di dalam berita. Jika hal ini terjadi, maka harus mencari berita yang sama tetapi dikemas dengan berbeda dan dapat menunjukan perbedaan tersebut. Apakah media yang ada menahan beberapa orang untuk suatu standar saat menggunakan standar yang lainnya untuk kelompok lain? Dimana mengekspos standar ganda dengan mengutip cerita yang serupa tetapi dengan cakupan yang berbeda.[12]
Dalam hal ini yang dimaksud dengan double standards atau standar ganda merupakan ukuran moral yang mana membuat penilaian terhadap subyek yang berbeda dinilai secara tidak sama dalam suatu kejadian.
*      Analisis :
Dalam berita yang menjadi studi kasus dijelaskan bahwa kondisi di Suriah akibat dari perang selama tujuh tahun menghancurkan banyak bangunan di berbagai kota seperti Aleppo, Raqqa, Homs, dan Damascus. Hal tersebut tergambar dari runtuhnya bangunan dan tidak ada bangunan yang masih kokoh berdiri atas kejadian yang terjadi diwilayah tersebut. Dalam berita tersebut juga dijelaskan bahwa konflik yang terjadi ialah dikarenakan adanya perang Saudara yang kemudian wilayahnya diambil alih dan dikuasai oleh rezim pemerintahan Bashar Al Assad.
Jika dibandingkan dengan berita CNN lain yang berjudul ‘Presiden Suriah : Perang Akan Terus Berlanjut’ yang ditulis oleh Amanda Puspita Sari kedua berita ini memiliki kesamaan dengan membahas konflik yang ada di Suriah yang mana banyak pengungsi yang melarikan diri ke negara lain akibat dari perang dan serangan dari pemerintah Bashar Al-Assad.[13] Namun pada berita ini cenderung fokus pada adanya campur tangan berbagai pihak atas konflik yang ada seperti Iran, Rusia, dan milisi Syiah yang mendukung pemerintahan Bashar Al-Assad dalam melawan militan.
Jadi dalam hal ini kedua berita ini memiliki persamaan dalam menggambarkan kondisi Suriah namun masing-masing berita memiliki kemasan yang berbeda dalam memberikan penilaian atas aktor dibalik perang Suriah, yang mana berita pertama cenderung mengungkapan bahwa kerusakan di Suriah dikarenakan karena rezim Bashar Al Assad saja dan berita kedua cenderung memberitakan mengenai perang Suriah yang aktornya bukan hanya Bashar Al Assad saja melainkan ada campur tangani oleh negara lain. Dalam hal ini berita di CNN terdapat adanya standar ganda dalam pemberitaannya.
5. Do stereotypes skew coverage?
Seringkali dalam pemberitaan media massa maupun media online, tidak terlepas dari biasnya wartawan atau jurnalis dalam memberi stereotypes terhadap individu, kelompok, maupun negara. Stereotypes yang diberikan oleh jurnalis atau wartawan dapat memberikan dampak yang cukup signifikan bagi para pembaca. Sehingga diperlukan edukasi yang lebih lanjut mengenai dalam memahami stereotypes yang dipaparkan oleh wartawan atau jurnalis di dalam berita, supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam membaca sebuah berita.[14]
*      Analisis :
Penggunaan “Hell on Earth” merupakan salah satu stereotype yang digunakan oleh Sheena McKenzie dalam mengistilahkan keadaan yang sedang terjadi di Suriah.[15] StereotypeHell on Earth” yang berartikan neraka di bumi, menggambarkan betapa kacaunya Suriah pada masa perang tujuh tahun terakhir ini. Stereotype tersebut dinilai bias karena dinilai penggunaan majas hiperbola yang digunakan oleh Sheena McKenzie dalam melakukan penulisan berita Perang Suriah. Penggunaan majas hiperbola dalam memberitakan sebuah isu, dapat mempengaruhi opini publik mengenai keadaan yang terjadi di Suriah. Publik bisa saja mengamini apa yang dituliskan oleh Sheena McKenzie mengenai “Hell on Earth” tersebut.
6. What are the unchallenged assumptions?
Pemberitaan seringkali memiliki asumsi-asumsi dasar yang mungkin saja tidak relevan dengan kejadian yang berlangsung. Asumsi biasanya berangkat dari ide si penulis berita atau wartawan yang menulis berita. Sehingga, disini perlu untuk melihat bagaimana adanya asumsi-asumsi atau data-data yang diberikan oleh media berita. Apakah asumsi tersebut memiliki kesinambungan dengan berita? Jika tidak maka media tersebut menjadi bias dalam melakukan pemberitaan.[16]
*      Analisis :
Dikutip dari CNN yang berjudul “Assad may win Syria's war, but he will preside over a broken country” disini menunjukkan bahwa terdapat asumsi yang ditulis oleh Tim Lister mengenai kemungkinan dari Bashar Al-Assad dalam memenangkan Perang Suriah akan tetapi, dia hanya memimpin sebuah negara yang sudah porak-poranda.[17] Asumsi ini hanya menunjukkan kejadian pasca perang saja, tidak terdapat data pasti mengenai apakah benar nantinya Suriah di bawah kepemimpinan Bashar Al-Assad akan tetap selamanya rusak? Menjadi bias karena, jurnalis hanya mendasarkan pada keadaan Suriah yang rusak dan porak-poranda pasca perang tanpa melihat faktor lain yang dimiliki Suriah dalam memulihkan keadaan negaranya. Sehingga diperlukan adanya data yang benar-benar akurat untuk mendukung asumsi dari Tim Lister.
77.  Is the language loaded?
Pemilihan bahasa dapat menjadi suatu hal yang penting, karena jika pemilihan bahasa yang tepat dapat menyampaikan pesan yang ingin disampaikan dengan benar, begitu juga sebaliknya jika penggunaan bahasa yang digunakan kurang tepat maka pesan yang disampaikan juga dapat terpengaruh. Dengan kata lain, penggunaan bahasa seringkali dapat menggiring opini dari pembaca.[18]
*      Analisis :
Pemilihan bahasa seringkali dapat dikaitkan dengan istilah yang digunakan oleh jurnalis dalam menggambarkan sebuah cerita dan disajikan di dalam berita. Seperti yang dikutip dari berita CNN dengan judul “How seven years of war turned Syria's cities into 'hell on Earth'” menunjukkan bahwa bahasa atau istilah “Neraka di Bumi” dapat menggiring opini publik bahwa Suriah benar-benar sebuah tempat yang digambarkan seperti neraka, yang mana tidak ada satu orangpun yang mau berada disana.[19] Penggiringan opini ini menjadi bias karena penggunaan kata “neraka” berkonotasikan negatif. Dimana, ada pesan negatif yang ingin disampaikan oleh jurnalis mengenai Suriah yang menurut dia memang benar-benar seperti neraka baginya. Dan akan menjadi semakin bias, jika para pembaca atau publik, menerima bahasa yang digunakan oleh jurnalis tersebut.
8.   Is there a lack of context?
Melihat bagaimana adanya kekurangan konteks di dalam berita tersebut. Sehingga diperlukan untuk mencantumkan dan memperjelas suatu konteks dalam berkomunikasi dengan wartawan atau menulis surat kepada seorang redaktur yang memuat informasi yang relevan, agar tidak terjadi bias.[20]
*      Analisis :
Dalam menganalisis berita yang terbatas dan tidak memberikan konteks didalamnya, seperti dalam berita “AS dikhawatirkan terlibat perang lebih luas di Suriah”, berita tersebut membahas AS campur tangan dalam perang suriah dengan alasan pertahanan diri. Hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Kementerian Luara Negeri Suriah yang mengatakan bahwa yang dilakukan AS adalah kejahatan perang  dan menyerukan agar koalisi dibubarkan. Bias cerita ini adalah kurangnya pernyataan mengapa AS melakukan penyerangan terhadap suriah selain sebagai pertahanan diri. Dianggap bias karena terbatasnya isi berita sehingga alasan yang didapat kurang. [21]
9. Do the headlines and stories match?
Melihat bagaimana headline yang digunakan dengan isi dari berita tersebut memiliki kesinambungan. Hal ini dapat terjadi karena headline bukan ditulis oleh sang reporter itu sendiri. Atau biasa yang dikenal dengan clickbait, yang mana judul berita tidak sesuai dengan isi cerita yang ada di dalam berita tersebut.[22]
*      Analisis :
Headline yang sifatnya clickbait, dapat membuat pembaca bingung dalam menelaah isi berita dengan judul dari berita yang tidak berkesinambungan. Seperti yang terdapat pada berita CNN dengan judul “Putin is stoking the hellish war in Syria and no one is stopping him” judul dari berita ini tidak berkesinambungan dengan isi cerita yang ada di dalam berita.[23] Pasalnya, di dalam berita ini menunjukkan bahwa adanya upaya Rusia dalam menebarkan kekacauan dalam pemilihan AS supaya dapat terekspos dengan baik. Rusia hanya menggunakan kekacauan yang ada di Suriah untuk dapat mempengaruhi pemilihan yang terjadi di AS. Menjadi bias media karena judul yang ditulis tidak sejalan dengan cerita yang dituliskan di dalamnya. Mengingat akan menjadi ambiguitas bagi para pembaca mengenai ketidaksinambungan judul dengan isi cerita.
1.  Are stories on important issues featured prominently?
Melihat bagaimana menonjolnya isu tersebut di dalam suatu media berita atau media massa. Dapat dilihat darimana sebuah cerita tersebut muncul, apakah di surat kabar di halaman yang paling banyak dibaca (halaman depan) dan berita utama di televisi (prime time)dan radio yang memiliki pengaruh terbesar terhadap opini publik.[24]
*      Analisis :
Pernyataan yang ditonjolkan dalam berita yang berjudul “Presiden Suriah: Perang akan terus berlanjut”, dimana terdapat pernyataan Presiden Suriah Bhasar Al-Assad bahwa Perang Saudara akan terus berlanjut karena banyaknya campur tangan dari negara lain.[25] Dalam berita tersebut dia menyatakan perang tersebut akan berlanjut meskipun sudah banyak ratusan korban yang berjatuhan yang mana negara lain termasuk Amerika dan Rusia berada dibalik perang saudara. Pernyatan dari Presiden Suriah tersebut menjadi bias ketika tidak ada oponi publik tentang perang tersebut bisa berakhir tanpa melibatkan lebih banyak korban lagi.
Kesimpulan
Setelah mengetahui 10 cara mendeteksi bias yang dikemukakan oleh FAIR, dapat pula menganalisis serta mendeteksi bias-bias yang dilakukan oleh media yang mana fokus utama media disini adalah CNN. Di setiap pemberitaan dari CNN yang diambil dan ditunjukkan dalam paper ini bahwa, media sebesar CNN dapat melakukan bias terhadap Perang yang terjadi di Suriah. Bias yang dilakukan CNN terhadap Perang Suriah tentu memiliki pengaruh bagi para pembaca media CNN tersebut. Bahkan, karena adanya bias tersebut, seringkali membuat atau bahkan menggiring opini-opini yang bermunculan di publik baik nasional maupun internasional. Sehingga, dapat dikatakan bahwa selain memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap Perang Suriah, CNN juga tidak terlepas dari ke-bias-annya dalam menyajikan berita-beritanya.



DAFTAR PUSTAKA
Sumber Online
Harber, Randy. CNN. At CNN From The Beginning , a ringside seat to History. https://edition.cnn.com/2012/02/23/opinion/harber-cnn-32-years/index.html
Hauser, Jennifer., Natalie Gallon and Waffa Munayyer. CNN. Airstrikes hit Syrian enclave where many are fleeing, activists say. https://edition.cnn.com/2018/03/17/middleeast/syria-ghouta-evacuations-afrin-hospital/index.html
Lemon, Gayle. CNN. Putin is stoking the hellish war in Syria and no one is stopping him. https://edition.cnn.com/2018/03/16/opinions/russia-chaos-syria-lemmon/index.html
Lister, Tim. CNN. Assad may win Syria's war, but he will preside over a broken country. https://edition.cnn.com/2018/03/15/middleeast/assad-the-victor-tim-lister-intl/index.html
McKenzie, Sheena. CNN. How seven years of war turned Syria's cities into 'hell on Earth'. https://edition.cnn.com/2018/03/15/middleeast/syria-then-now-satellite-intl/index.html



[1] FAIR. How To Detect Bias In News Media. Diakses dari https://fair.org/take-action-now/media-activism-kit/how-to-detect-bias-in-news-media/ pada 20 maret 2018
[2] Sheena McKenzie. CNN. How seven years of war turned Syria's cities into 'hell on Earth'. Diakses dari https://edition.cnn.com/2018/03/15/middleeast/syria-then-now-satellite-intl/index.html pada 20 maret 2018
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid. FAIR
[6] Jennifer Hauser, Natalie Gallon and Waffa Munayyer. CNN. Airstrikes hit Syrian enclave where many are fleeing, activists say. Diakses dari https://edition.cnn.com/2018/03/17/middleeast/syria-ghouta-evacuations-afrin-hospital/index.html pada 20 Maret 2018
[7] Ibid. FAIR.
[8] Ibid. op. cit. How seven years of war turned Syria's cities into 'hell on Earth'.
[9] Ibid. FAIR.
[10] Randy Harber. CNN. At CNN From The Beginning , a ringside seat to History. Diakses dari https://edition.cnn.com/2012/02/23/opinion/harber-cnn-32-years/index.html pada 20 Maret 2018
[11] Lesthia Kertopati. CNN. Serangan Trump ke Suriah Tanpa Izin Kongres. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20170407121201-134-205711/serangan-trump-ke-suriah-tanpa-izin-kongres pada 20 Maret 2018
[12] Ibid. FAIR.
[13] Amanda Puspita Sari. CNN. Presiden Suriah: Perang Akan Terus Berlanjut. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20160923141416-120-160607/presiden-suriah-perang-akan-terus-berlanjut pada 20 Maret 2018
[14] Ibid. FAIR.
[15] Ibid. How seven years of war turned Syria's cities into 'hell on Earth'.
[16] Ibid. FAIR.
[17] Tim Lister. CNN. Assad may win Syria's war, but he will preside over a broken country. Diakses dari https://edition.cnn.com/2018/03/15/middleeast/assad-the-victor-tim-lister-intl/index.html pada 20 Maret 2018
[18] Ibid. FAIR.
[19] Ibid. How seven years of war turned Syria's cities into 'hell on Earth'.
[20] Ibid.FAIR.
[21] Rinadly Sofwan. CNN. AS Dikhawatirkan Terlibat Perang Lebih Luas di Suriah. Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180209142151-134-275059/as-dikhawatirkan-terlibat-perang-lebih-luas-di-suriah pada 21 Maret
[22] Ibid. FAIR.
[23] Gayle Lemon. CNN. Putin is stoking the hellish war in Syria and no one is stopping him. Diakses dari https://edition.cnn.com/2018/03/16/opinions/russia-chaos-syria-lemmon/index.html pada 20 Maret 2018
[24] Ibid. FAIR.
[25] Ibid. Presiden Suriah: Perang Akan Terus Berlanjut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEGUGURAN DAN BLIGHTED OVUM (cerita pribadi)

     Hai, hari ini aku akan sedikit cerita tentang pengalaman hidup aku yang cukup dramatis dan ada sedihnya hehe. Jadi aku menikah pada 28 ...