ANALISA BIAS MEDIA
DALAM PERANG SURIAH MENGGUNAKAN 10 CARA FAIRNESS AND ACCURACY IN REPORTING (FAIR)
Diajukan
untuk memenuhi nilai tugas kelompok mata kuliah Komunikasi dan Media Global
Dosen
Pengampu : Muhammad Riza Hanafi, S.IP., MIA.
Disusun
Oleh : Kelompok 5
Mutiara
Daimatus : 155120401111011
Syuhrotul
Ayuniyah : 155120407111018
Adrian
Zhafiri : 155120407111020
Lies
Aisyah Fardini :
155120407111069
PROGRAM STUDI HUBUNGAN
INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU
POLITIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang, mencari
berita baru ataupun berita yang sudah lampau bukanlah menjadi suatu hal yang
sulit. Berita-berita tersebut dapat diakses melalui berita koran, televisi,
radio atau internet sekalipun. Hampir dari seluruh bentuk media menyajikan
berita-berita, baik dari media massa hingga media sosial. Media pada saat ini
memiliki “power” yang cukup besar untuk mengubah budaya dan pandangan kita
terhadap isu isu politik. Berita berita yang disebarkan oleh media berita dan
institusi haruslah adil dan akurat. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari
bias media. Tetapi pada saat ini bias-bias masih terdapat di dalam berita atau
media yang disebarkan oleh media berita ataupun institusi.
Terdapat sepuluh cara yang dikemukakan oleh Fairness and Accuracy in Reporting (FAIR) untuk
mengetahui bias yang ada di dalam suatu berita. Yang pertama adalah Who are the sources?. Cara yang kedua adalah Is there a lack of diversity?. Cara yang ketiga adalah From whose point of view is the news reported?.
Cara yang keempat adalah Are there
double standards?. Cara yang kelima adalah Do stereotypes skew coverage?. Cara yang keenam adalah What
are the unchallenged assumptions?. Cara yang ketujuh adalah Is
the language loaded?. Cara yang kedelapan adalah Is there a lack of context?. Cara yang kesembilan adalah Do
the headlines and stories match?. Cara terakhir adalah Are stories on important issues
featured prominently?.
Dengan adanya sepuluh cara tersebut, akan dijelaskan
lebih lanjut mengenai pengertian beserta analisis kami dalam mendeteksi bias
media terhadap Perang Suriah pada tahun 2011 hingga kini. Dimana fokus media
yang kami gunakan di dalam paper ini adalah CNN (Cable New Network). Sehingga
dapat memudahkan kami dalam menganalisis bias media yang dilakukan oleh CNN
dalam pemberitaan kasus Perang Suriah. Kami mengharapkan, melalui paper ini
para pembaca akan mudah dalam mendeteksi bias-bias yang dilakukan oleh media
massa dakam melakukan sebuah pemberitaan terhadap suatu isu.
Studi Kasus
Perang Saudara di Suriah sudah terjadi selama 7
tahun, dimulai pada bulan Maret tahun 2011 yang dikarenakan adanya demonstrasi
besar-besaran untuk menentang kepemimpinan Presiden Bashar Al-Assad. Mulai dari
awal Perang Saudara sampai pada saat ini, kota-kota besar di Suriah banyak yang
hancur dan sebagian kota sudah tidak bisa digunakan sebagai tempat tinggal
ataupun tempat mencari nafkah, kota-kota tersebut antara lain adalah Aleppo,
Raqqa, Homs, dan Damascus.[2]
Dengan terjadinya Perang Saudara ini banyak situs-situs UNESCO ataupun
gedung-gedung architectural yang
hancur. Seperti contohnya situs yang berada di Kota Damascus yang bernama Garden of Eden. Situs dan kota ini
dahulu dapat dianggap sebagai heaven on
earth, tetapi sekarang semenjak terjadinya perang saudara ini, kota dan
situs ini adalah bentuk yang paling dekat dengan kata hell on earth. Begitu juga yang terjadi dengan kota Aleppo, yang
sebelumnya merupakan rumah bagi 2 juta penduduk, sekarang hanyalah kota sisa
perang yang tidak dapat dikatakan atau digunakan sebagai tempat tinggal.[3]
Perang Aleppo juga dianggap sebagai perang yang paling sadis selama 7 tahun
Perang Saudara ini berjalan. Ratusan orang meninggal dunia dan ratusan orang
lainnya mengalami luka parah. Kota ini kemudian diambil alih oleh pihak
presiden Bashar Al-Assad pada bulan Desember 2016 dengan bantuan dari Russia
melalui udara.
Begitu pula yang terjadi dengan Kota Homs. Kota
terbesar ketiga di negara Suriah ini menjadi pusat dari perlawanan yang
dilakukan oleh masyarakat Suriah terhadap presiden Bashar Al-Assad.[4]
Tetapi, Kota Homs kini telah hancur karena kota ini diambil alih oleh pihak
presiden Bashar Al-Assad pada tahun 2014 dengan menggempur secara keras dan
menghancurkan beberapa gedung yang dianggap sebagai tempat bersembunyi pada
pemberontak tersebut. Kota-kota yang pernah menjadi medan perang ini ada
beberapa yang dibangun ulang oleh pemerintah, tetapi kota-kota tersebut merupakan
kota-kota yang dikuasai oleh pihak pemerintah, sedangkan kota yang dikuasai
oleh pemberontak, tidak ada pembangunan ulang oleh pemerintah.
10 Cara Mendeteksi Bias
Media “FAIR” dan Analisis Terhadap Studi Kasus :
1. Who are the sources?
Dalam melihat bagaimana dan dari
siapa sumber berita tersebut diambil. Biasanya media berita mengandalkan pihak
pihak atau aktor-aktor “official”.
Pihak pihak atau aktor-aktor tersebut dianggap tidak merepresentasikan seluruh
masyarakat. Media harus mencari narasumber lebih agar berita yang dihasilkan
tidak menjadi bias. Cara yang mudah yang pertama untuk menemukan bias adalah
menghitung sumber dari korporasi atau pihak “official” lainnya dan bandingkan dengan jumlah dari masyarakat,
ahli dan suara minoritas lainnya.
Analisis :
Dalam melakukan analisis bias menggunakan
cara yang pertama adalah dengan melihat
narasumber yang digunakan oleh media berita. Seperti contoh yang terdapat dalam berita CNN yang berjudul “Airstrikes hit Syrian enclave where many are
fleeing, activists say”.
Pada berita tersebut dapat dilihat bahwa narasumber yang digunakan hanyalah
pihak-pihak atau aktor-aktor yang menjadi “official”,
contohnya The UN Office for the
Coordination of Humanitarian Affair (OCHA), Ambasador Suriah untuk UN, dan
pihak UN yang sedang berada di lapangan . Sedangkan tidak ada narasumber dari
pihak yang menjadi korban ataupun pihak yang merasakan dampak dari airstrike yang digunakan untuk
membombardir kota tersebut. Dengan hanya menggunakan satu narasumber saja,
berita yang ditulispun menjadi bias. Karena tidak adanya narasumber lain yang
dicantumkan di dalam laman berita tersebut.
2. Is there a lack of
diversity?
Melihat bagaimana adanya perbedaan pada
posisi pembuat keputusan. Jika hampir seluruh pembuat keputusan memiliki latar
belakang yang sama, maka berita yang dihasilkan dapat dianggap bias, karena
pengambil keputusan tidak mewakilkan seluruh lapisan masyarakat. Selain itu
juga, perlu untuk mempertanyakan apakah disuatu berita yang dianalisis biasnya
terdapat adanya unsur keragaman gender atau RAS didalamnya. Komposisi pekerja
dibidang pers yakni pembuat berita, dalam hal ini bisa berkaitan dengan gender
dan latar belakang sosial politik dapat mempengaruhi perspektif berita yang
ditulis.
Analisis :
Berita CNN yang berjudul “How Seven Years Of War Turned Syiria’s War
Cities Into ‘Hell On Earth’”
ditulis oleh seorang reporter perempuan bernama Sheena McKenzie dan Tamara
Qiblawi. Dalam hal penulisan berita ini ada unsur keragaman dalam penulisan
berita, dimana tokoh perempuan juga bisa turut andil dalam melaporkan peristiwa
dan menuliskannya di berita. Jadi, dilihat dari berita yang dianalisis, tidak
terdapat ada kekurangan keragaman dalam penulisan berita ini karena dalam
penulisan berita bukan hanya tergantung oleh sistem yang patriarki saja dimana
pekerja pers didominasi oleh reporter
yang berjenis kelamin laki-laki saja melainkan pekerja pers atau reporeter perempuan turut andil juga.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa peran wanita dalam memberitakan kondisi
perang di Suriah ini ternyata dilibatkan oleh media CNN.
Selanjutnya dalam pembuatan berita di
media pasti dipengaruhi oleh perspektif dari si pembuat berita atau reporter
berita, yang mana di berita yang penulis analisis ini memberitakan kondisi di
Suriah yang digambarkan secara realitas dan lebih memfokuskan terhadap sisi
kemanusiaan terjadi di Suriah. Perspektif penulisan berita antara laki-laki dan
perempuan cenderung berbeda, perempuan lebih menggunakan bahasa yang menyentuh
perasaan dibandingkan dengan laki-laki yang cenderung menggunakan logika.
Hal tersebut dapat dilihat dari
dimasukannya ungkapan opini dari pihak lain yang cenderung menggambarkan Suriah
bagian Damaskus yang dulunya merupakan surga karena memiliki banyak fasilitas,
taman dan hal-hal yang serba ada kini berubah menjadi seperti neraka yang ada
di bumi karena kerusakan yang terjadi dimana-mana. Selain itu penggunaan
ungkapan penggambaran kondisi allepo yang disebut sebagai kota yang berlumur
darah juga merupakan sebuah bahasa yang penuh dengan perasaan atas realitas
yang ada karena remuk dan leburnya bangunan disana.
3. From whose point of
view is the news reported?
Dalam hal ini mempertanyakan dari
manakah sudut pandang pembuatan berita itu didapatkan, yang mana berita sering
kali melihat sudut pandang pembuat kebijakan daripada sudut pandang manusia
yang menerima dampak kebijakan. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sudut
pandang berita biasanya didapatkan dari pihak yang memiliki memiliki kekuasaan
atau powerfull dan bukan dari pihak yang lemah dan tidak memiliki kuasa atau powerless.
Pastikan bahwa individu atau kelompok yang terkena dampak dari isu yang
dihasilkan oleh media tersebut merasa bahwa dirinya sudah merasa diwakilkan
oleh berita tersebut.
Analisis :
Dalam berita yang dianalisis pemberitaan
tersebut dipublikasikan dari Media CNN, yang mana media ini merupakan media
yang berasal dari Amerika Serikat dan pusatnya berbasis di Atlanta, Georgia. Pembuatan berita mengenai perang di Suriah
ini cenderung mengikuti sudut pandang Amerika Serikat juga, yang mana menyebutkan bahwa perang yang terjadi di Suriah disebabkan oleh
pemberontakan rezim Bashar Al-Assad sebagai dalang
dibalik perang yang terjadi di Suriah. Dari berita CNN tanggal 7 April 2017
yang berjudul ‘Serangan Trump ke Suriah Tanpa Izin Kongres’ yang ditulis oleh
Lesthia Kertopati mengungkapkan bahwa Amerika serikat turun tangan dalam
menangani konflik yang ada di Suriah, hal itu dapat dilihat dari serangan
militer udara ke pangkalan militer Suriah atas serangan beracun di Idlib yang
diinisiasi oleh Rezim Bashar Al-Assad. Berita dalam studi kasus dan juga berita
pembanding ini memiliki kesamaan dalam melihat perang Suriah, dimana aktor yang
menjadi dalang dibalik konflik di Suriah adalah Bashar Al-Assad. Pada intinya
dalam sudut pandang penulisan berita ini cenderung dipengaruhi oleh perspektif Amerika Serikat.
4. Are there double
standards?
Melihat apakah terdapat standar ganda di
dalam berita. Jika hal ini terjadi, maka harus mencari berita yang sama tetapi
dikemas dengan berbeda dan dapat menunjukan perbedaan tersebut. Apakah media
yang ada menahan beberapa orang untuk suatu standar saat menggunakan standar
yang lainnya untuk kelompok lain? Dimana mengekspos standar ganda dengan
mengutip cerita yang serupa tetapi dengan cakupan yang berbeda.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan double standards atau standar ganda
merupakan ukuran moral yang mana membuat penilaian terhadap subyek yang berbeda
dinilai secara tidak sama dalam suatu kejadian.
Analisis :
Dalam berita yang menjadi studi kasus
dijelaskan bahwa kondisi di Suriah akibat dari perang selama tujuh tahun
menghancurkan banyak bangunan di berbagai kota seperti Aleppo, Raqqa, Homs, dan
Damascus. Hal tersebut tergambar dari runtuhnya bangunan dan tidak ada bangunan
yang masih kokoh berdiri atas kejadian yang terjadi diwilayah tersebut. Dalam
berita tersebut juga dijelaskan bahwa konflik yang terjadi ialah dikarenakan
adanya perang Saudara yang kemudian wilayahnya diambil alih dan dikuasai oleh
rezim pemerintahan Bashar Al Assad.
Jika dibandingkan dengan berita CNN lain
yang berjudul ‘Presiden Suriah : Perang Akan Terus Berlanjut’ yang ditulis oleh
Amanda Puspita Sari kedua berita ini memiliki kesamaan dengan membahas konflik
yang ada di Suriah yang mana banyak pengungsi yang melarikan diri ke negara
lain akibat dari perang dan serangan dari pemerintah Bashar Al-Assad. Namun pada berita ini cenderung
fokus pada adanya campur tangan berbagai pihak atas konflik yang ada seperti
Iran, Rusia, dan milisi Syiah yang mendukung pemerintahan Bashar Al-Assad dalam
melawan militan.
Jadi dalam hal ini kedua berita ini
memiliki persamaan dalam menggambarkan kondisi Suriah namun masing-masing
berita memiliki kemasan yang berbeda
dalam memberikan penilaian atas aktor dibalik perang Suriah,
yang mana berita pertama cenderung
mengungkapan bahwa kerusakan di Suriah dikarenakan karena rezim Bashar Al Assad
saja dan berita kedua cenderung memberitakan
mengenai perang Suriah yang aktornya
bukan hanya Bashar Al Assad saja melainkan ada campur tangani oleh negara lain. Dalam hal ini berita di CNN terdapat adanya standar ganda
dalam pemberitaannya.
5. Do stereotypes skew
coverage?
Seringkali dalam pemberitaan media massa
maupun media online, tidak terlepas dari biasnya wartawan atau jurnalis dalam
memberi stereotypes terhadap
individu, kelompok, maupun negara. Stereotypes
yang diberikan oleh jurnalis atau wartawan dapat memberikan dampak yang cukup
signifikan bagi para pembaca. Sehingga diperlukan edukasi yang lebih lanjut
mengenai dalam memahami stereotypes
yang dipaparkan oleh wartawan atau jurnalis di dalam berita, supaya tidak
terjadi kesalahpahaman dalam membaca sebuah berita.
Analisis :
Penggunaan “Hell on Earth” merupakan salah satu stereotype yang digunakan oleh Sheena McKenzie dalam mengistilahkan
keadaan yang sedang terjadi di Suriah. Stereotype “Hell on Earth” yang berartikan neraka di bumi, menggambarkan betapa
kacaunya Suriah pada masa perang tujuh tahun terakhir ini. Stereotype tersebut dinilai bias karena dinilai penggunaan majas
hiperbola yang digunakan oleh Sheena McKenzie dalam melakukan penulisan berita
Perang Suriah. Penggunaan majas hiperbola dalam memberitakan sebuah isu, dapat
mempengaruhi opini publik mengenai keadaan yang terjadi di Suriah. Publik bisa
saja mengamini apa yang dituliskan oleh Sheena McKenzie mengenai “Hell on Earth” tersebut.
6. What are the
unchallenged assumptions?
Pemberitaan seringkali memiliki
asumsi-asumsi dasar yang mungkin saja tidak relevan dengan kejadian yang
berlangsung. Asumsi biasanya berangkat dari ide si penulis berita atau wartawan
yang menulis berita. Sehingga, disini perlu untuk melihat bagaimana adanya
asumsi-asumsi atau data-data yang diberikan oleh media berita. Apakah asumsi
tersebut memiliki kesinambungan dengan berita? Jika tidak maka media tersebut
menjadi bias dalam melakukan pemberitaan.
Analisis :
Dikutip dari CNN yang berjudul “Assad may win Syria's war, but he will
preside over a broken country” disini menunjukkan bahwa terdapat asumsi
yang ditulis oleh Tim Lister mengenai kemungkinan dari Bashar Al-Assad dalam
memenangkan Perang Suriah akan tetapi, dia hanya memimpin sebuah negara yang
sudah porak-poranda.
Asumsi ini hanya menunjukkan kejadian pasca perang saja, tidak terdapat data
pasti mengenai apakah benar nantinya Suriah di bawah kepemimpinan Bashar
Al-Assad akan tetap selamanya rusak? Menjadi bias karena, jurnalis hanya
mendasarkan pada keadaan Suriah yang rusak dan porak-poranda pasca perang tanpa
melihat faktor lain yang dimiliki Suriah dalam memulihkan keadaan negaranya.
Sehingga diperlukan adanya data yang benar-benar akurat untuk mendukung asumsi
dari Tim Lister.
77. Is the language loaded?
Pemilihan bahasa dapat menjadi suatu hal
yang penting, karena jika pemilihan bahasa yang tepat dapat menyampaikan pesan
yang ingin disampaikan dengan benar, begitu juga sebaliknya jika penggunaan
bahasa yang digunakan kurang tepat maka pesan yang disampaikan juga dapat
terpengaruh. Dengan kata lain, penggunaan bahasa seringkali dapat menggiring
opini dari pembaca.
Analisis :
Pemilihan bahasa seringkali dapat
dikaitkan dengan istilah yang digunakan oleh jurnalis dalam menggambarkan
sebuah cerita dan disajikan di dalam berita. Seperti yang dikutip dari berita
CNN dengan judul “How seven years of war
turned Syria's cities into 'hell on Earth'” menunjukkan bahwa bahasa atau
istilah “Neraka di Bumi” dapat menggiring opini publik bahwa Suriah benar-benar
sebuah tempat yang digambarkan seperti neraka, yang mana tidak ada satu
orangpun yang mau berada disana.
Penggiringan opini ini menjadi bias karena penggunaan kata “neraka”
berkonotasikan negatif. Dimana, ada pesan negatif yang ingin disampaikan oleh
jurnalis mengenai Suriah yang menurut dia memang benar-benar seperti neraka
baginya. Dan akan menjadi semakin bias, jika para pembaca atau publik, menerima
bahasa yang digunakan oleh jurnalis tersebut.
8. Is there a lack of
context?
Melihat bagaimana adanya kekurangan
konteks di dalam berita tersebut. Sehingga diperlukan untuk mencantumkan dan
memperjelas suatu konteks dalam berkomunikasi dengan wartawan atau menulis
surat kepada seorang redaktur yang memuat informasi yang relevan, agar tidak
terjadi bias.
Analisis :
Dalam menganalisis berita yang terbatas dan
tidak memberikan konteks didalamnya, seperti dalam berita
“AS dikhawatirkan terlibat perang lebih luas di Suriah”, berita tersebut
membahas AS campur tangan dalam perang suriah dengan alasan pertahanan diri.
Hal tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Kementerian
Luara Negeri Suriah yang mengatakan bahwa
yang dilakukan AS adalah kejahatan perang
dan menyerukan agar koalisi dibubarkan. Bias cerita ini adalah kurangnya
pernyataan mengapa AS melakukan penyerangan terhadap suriah selain sebagai pertahanan diri. Dianggap bias karena terbatasnya isi berita sehingga
alasan yang didapat kurang.
9. Do the headlines and
stories match?
Melihat bagaimana headline yang digunakan dengan isi dari berita tersebut memiliki
kesinambungan. Hal ini dapat terjadi karena headline
bukan ditulis oleh sang reporter itu sendiri. Atau biasa yang dikenal dengan clickbait, yang mana judul berita tidak
sesuai dengan isi cerita yang ada di dalam berita tersebut.
Analisis :
Headline
yang sifatnya clickbait, dapat
membuat pembaca bingung dalam menelaah isi berita dengan judul dari berita yang
tidak berkesinambungan. Seperti yang terdapat pada berita CNN dengan judul “Putin is stoking the hellish war in Syria
and no one is stopping him” judul dari berita ini tidak berkesinambungan
dengan isi cerita yang ada di dalam berita.
Pasalnya, di dalam berita ini menunjukkan bahwa adanya upaya Rusia dalam
menebarkan kekacauan dalam pemilihan AS supaya dapat terekspos dengan baik.
Rusia hanya menggunakan kekacauan yang ada di Suriah untuk dapat mempengaruhi
pemilihan yang terjadi di AS. Menjadi bias media karena judul yang ditulis
tidak sejalan dengan cerita yang dituliskan di dalamnya. Mengingat akan menjadi
ambiguitas bagi para pembaca mengenai ketidaksinambungan judul dengan isi
cerita.
1.
Are stories on
important issues featured prominently?
Melihat bagaimana menonjolnya isu
tersebut di dalam suatu media berita atau media massa. Dapat dilihat darimana
sebuah cerita tersebut muncul, apakah di surat kabar di halaman yang paling
banyak dibaca (halaman depan) dan berita utama di televisi (prime time)dan radio yang memiliki
pengaruh terbesar terhadap opini publik.
Analisis :
Pernyataan yang ditonjolkan
dalam berita yang berjudul “Presiden Suriah: Perang akan terus berlanjut”,
dimana terdapat pernyataan Presiden Suriah Bhasar Al-Assad bahwa Perang Saudara
akan terus berlanjut karena banyaknya campur tangan dari
negara lain.
Dalam berita tersebut dia menyatakan perang tersebut akan berlanjut meskipun
sudah banyak ratusan korban yang berjatuhan yang mana negara lain termasuk
Amerika dan Rusia berada dibalik perang saudara. Pernyatan dari Presiden Suriah
tersebut menjadi bias ketika tidak ada oponi publik tentang perang tersebut
bisa berakhir tanpa melibatkan lebih banyak korban lagi.
Kesimpulan
Setelah mengetahui 10 cara
mendeteksi bias yang dikemukakan oleh FAIR, dapat pula menganalisis serta
mendeteksi bias-bias yang dilakukan oleh media yang mana fokus utama media
disini adalah CNN. Di setiap pemberitaan dari CNN yang diambil dan ditunjukkan
dalam paper ini bahwa, media sebesar CNN dapat melakukan bias terhadap Perang
yang terjadi di Suriah. Bias yang dilakukan CNN terhadap Perang Suriah tentu
memiliki pengaruh bagi para pembaca media CNN tersebut. Bahkan, karena adanya
bias tersebut, seringkali membuat atau bahkan menggiring opini-opini yang
bermunculan di publik baik nasional maupun internasional. Sehingga, dapat
dikatakan bahwa selain memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap Perang
Suriah, CNN juga tidak terlepas dari ke-bias-annya dalam menyajikan
berita-beritanya.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumber Online